Rumah Ruqyah

thumbnail

Shohihkah Hadits Sunnah Berbekam?

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-14

Tanggal Dianjurkan Berbekam
Assalamualaikum ustadz.. Bagaimana dengan hadist berbakam pada tangal 17,19,21. Hadist ini shohih tidak tadz.?

Mohon penjelasannya tadz... (08778474xxxx)

Wa'alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Bismillah wal Hamdulillah ..

Ya, hadits tentang itu memang ada. Di antaranya, tertuang dalam _Sunan Abi Daud,_ pada _Bab Mataa Tustahabbul Hijaamah_ – _Kapan Disunnahkannya Berbekam?,_ yaitu sebagai berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ احْتَجَمَ لِسَبْعَ عَشْرَةَ وَتِسْعَ عَشْرَةَ وَإِحْدَى وَعِشْرِينَ كَانَ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ ».

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallahu Alaihi Bersabda ::

"Barang siapa yang berbekam pada tanggal 17, 19, dan 21 maka itu menjadi obat bagi semua penyakit".

(HR. Abu Daud No. 3863, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20018, Ma’rifatus Sunan wal Aatsar No. 19339. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7475)

Status hadits:

- Imam Al Hakim berkata: shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak ‘ala Ash Shahihain No. 7475)

- Imam As Suyuthi berkata: shahih. (Al Jaami’ Ash Shaghiir No. 8326)

- Imam Al Munawi berkata: shahih. (At Taysir Bi Syarhi Al Jami’ Ash Shaghir, 2/752)

- Syaikh Al Albani berkata: hasan. (As Silsilah Ash Shahihah No. 622, Shahihul Jaami’ No. 5968)

Demikian. Wallahu a'lam

Ustadz Ustadz Farid Nu'man Hasan


RRIAds - Shampo Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


November 14, 2019
thumbnail

Bedah Kesaksian 'Ditanam Rajah'

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-12


Bedah Kesaksian 'Ditanam Rajah'

  Apa yang dialami Ibu Diah di Salatiga, Jawa Tengah tersebut adalah nyata. Peristiwa itu masuk dalam kategori Sihir. Artinya, Ibu Diah terkena gangguan sihir. Hal itu bisa dilihat dari adanya rajah yang ditanam di halaman rumahnya serta reaksi-reaksi yang ia alami.

  Menurut para Ulama, Sihir model seperti itu disebut dengan Sihir Tankis. Artinya Sihir yang menggunakan sarana rajah yang ditulis huruf arab, atau Al Qur’an secara terbalik.

  Peristiwa yang dialami Ibu Diah juga menjelaskan soal lain, bahwa Sihir itu benar adanya. Artinya Sihir ada hakekatnya. 

  Ahli Tafsir terkenal, Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa para ahli Sunnah berpendapat, Sihir telah disebutkan keberadaannya oleh nash (dalil) dan memiliki hakekat.

  Sihir bisa menimbulkan rasa sakit. Begitulah para Ulama Shalih dahulu menjelaskan. Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi misalnya mengatakan : “Sihir ialah buhul, mantera, dan perkataan yang diucapkan atau ditulis atau dibuat sesuatu, yang berpengaruh pada jasad orang yang disihir atau pada hati dan akalnya tanpa menyentuhnya secara langsung. Sihir adalah sesuatu yang memang terjadi. Di antaranya ada yang sampai menimbulkan kematian, sakit… (Al Mughni, 10/04)

  Dalam kasus Ibu Diah, salah satu efek sakit dari sihir adalah munculnya benjolan di leher yang sangat sakit tersebut, atau juga munculnya ulat-ulat di rumahnya.

  Tetapi ada satu hal penting yang harus dipahami oleh setiap Mukmin, bahwa Sihir tersebut TIDAK AKAN BERHASIL KECUALI DENGAN IZIN Allah. Maksudnya, Sihir bisa mencederai, melukai, dan bisa membuat orang yang disihir mengalami sakit, secara Aqidah, kita harus meyakini bahwa ia tidak bisa terjadi kecuali atas izin Allah.

  Lihatlah dengan jelas Firman Allah, “Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah.” (Qs. Al Baqarah : 102). Maka, bisa jadi Allah SEDANG MENGUJI IBU DIAH AGAR DERAJAT KEIMANANNYA BERTAMBAH.

  Selain itu, Sihir tersebut juga menunjukkan adanya Jin yang merasuk ke dalam diri Ibu Diah. Itu bisa dilihat dari adanya dorongan untuk memukul orang Sholeh, menjadi tentram bila melihat salib, atau melihat jurang. Bukti lain adanya reaksi fisik diluar kehendak Ibu Diah, ketika dibacakan ruqyah, atau omongan-omongan dusta dari jin tersebut. Termasuk dalam hal ini juga adalah perasaan ibu Diah seakan-akan ada pasukan kuda.

  Namun, sihir tersebut pada akhirnya bisa digagalkan DENGAN IZIN Allah melalui sarana ikhtiar Ruqyah. Di samping itu adanya benteng diri dari Ibu Diah seperti menutup aurat, membaca wirid pagi dan petang, telah memberi kekuatan pada diri Ibu Diah untuk bertahan. Hal itu bisa dilihat, misalnya bagaimana ia masih bisa berjuang keras mengendalikan dirinya ketika ada dorongan untuk memukul, atau terjun ke jurang.

Tim Redaksi Majalah Ghoib

Kisah Ibu Diah bisa dibaca DISINI
November 12, 2019
thumbnail

Jelang Tes CPNS, Pedagang Jimat Laku Keras

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-10


Jelang Tes CPNS, Pedagang Jimat di Pasar Jatinegara Kebanjiran Order

  Jelang pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada 11 November 2019, masyarakat semakin antusias mempersiapkan kebutuhan tes. Bahkan ada juga calon peserta tes CPNS yang bukan hanya melakukan persiapan dengan membeli buku untuk dipelajari, melainkan jimat-jimat juga laris manis

  Menurut salah satu pedagang jimat di Pasar Rawa Bening (Jakarta Gems Center/JGC), David, masyarakat Indonesia masih sangat erat dengan mistis. Sehingga, menjelang tes CPNS dan pemilu, JGC ramai dikunjungi.

  "Banyak yang cari jimat ke sini. Ya kita hanya menyediakan saja. Biasanya itu mereka (pembeli) sudah tahu kebutuhan jimat untuk tes apa saja," katanya kepada kumparan saat ditemui di lapaknya, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (8/11).

  Berbagai macam jimat tertata di mejanya. Sebagian besar jimat-jimat tersebut berasal dari Jawa Timur. Meski beberapa daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan daerah lain juga ada. Menurut David, secara umum jimat-jimat ini tidak bisa semata-mata menjamin akan diterima tes CPNS. Sebab, kata dia, jimat hanya sebagai media supaya lebih percaya diri. 

  Jimat-jimat di JGC dijual dari harga Rp 5 ribu hingga Rp 700 ribu. Setiap pedagang memiliki karakteristik jimat masing-masing.

  Pedagang lainnya yang enggan disebutkan namanya, mengatakan ada beberapa jimat yang bisa dibeli untuk menjalani tes CPNS, yaitu jimat isim. Jimat isim miliknya terbuat dari kulit sapi yang sudah dijahit hingga berbentuk kotak.

"Ini saya jual Rp 30 ribu per biji. Di dalamnya ada (batu) bacaannya. Kalau di lainnya beda-beda," jelasnya. Dia menegaskan agar peserta tidak serta-merta percaya jimat. Sebab, jimat ini hanya sebagai media saja, bukan sebuah kekuatan yang bisa memastikan lolos tes CPNS.

"Kekuatan yang tetap Allah SWT, kalau percaya ini (jimat) ya keluar dari jalur," jelasnya.

Sumber : Kumparan


RRIAds - Air Ruqyah JUmbo (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 
November 10, 2019
thumbnail

Membentengi Keluarga Dari Teror Syetan [Bag.2]

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-08


Benteng Pertahanan dari Serangan Syetan

  Ada benteng-benteng pertahanan yang sangat kokoh bagi kita untuk berlindung dari kejahatan dan serangan syetan, apapun bentuk dan macam kejahatan dan serangan tersebut, tidak ada benteng lain yang kekokohannya melebihi benteng-benteng ini.

  Karena benteng ini merupakan anugerah Allah dan diajarkan oleh Rasulullah. Jangan ragu lagi untuk menggunakannya. Barangsiapa ragu, berarti meragukan keuasaan dan kekuatan Allah. Dan barangsiapa meragukan kekuasaan-Nya, berarti telah menjadi pengikut musuh-Nya, Iblis dan balatentaranya.

  Jangan silau dengan bujuk rayu dan bualan manis para dukun atau orang pintar. Mereka adalah agen-agen syetan di bumi ini. Jika mereka menawarkan benteng diri dari gangguan syetan yang berupa jimat, benda pusaka, benda keramat, isim, wifik, rajah, hizib dan yang sejenisnya.

   Karena syetan tidak akan takut pada benda-benda mati seperti itu. Justru benda-benda seperti itulah yang selama ini jadi sarana syetan untuk bersarang padanya, dan menjadi media syetan untuk menggelincirkan akidah Islam kita. 

  Rasulullah mewariskan kepada kita ayat dan do’a sebagai sarana untuk memohon perlindungan kepada Allah dari serangan dan kejahtan syetan, bukan benda atau mantera. 

  Berikut ini benteng pertahanan yang kokoh untuk menangkal dan menghalau terror, serangan dan kejahatan syetan terkutuk dari diri kita dan keluarga tercinta.

1. Ikhlas

  Al-Qur’an memberitahukan, “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka’.” (QS. Al-Hijr: 39-40)

  Itulah pengakuan Iblis atau syetan sendiri yang diabadikan Allah dalm kitab-Nya. Pengakuan itu benar adanya karena bersumber dari kitab yang terbebas dari keraguan dan kesalahan, yaitu al-Qur’an. Oleh karena itu penting sifatnya untuk memahamkan makna ikhlas kepada keluarga, dan tanamkanlah nilai-nilai ikhlas itu dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Itulah benteng terkokoh.

2. Iman yang lurus dan tawakkal

  Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT) menegaskan, “Sesungguhnya syetan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl : 99-100)

  Rumah yang masih ditempeli jimat, rajah, isim atau benda yang dikeramatkan lainnya, berarti penghuninya telah membuka celah lebar bagi syetan untuk melakukan serangan kepada seisi rumah. Kalaupun mereka tidak diserang secara fisik, akidah mereka telah hancur karena meyakini benda-benda itu mampu jadi pelindung.

3. Selalu waspada.

  Allah SWT. mengingatkan, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu). Karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

  Keluarga yang menyadari akan sengitnya permusuhan syetan, mereka akan selalu waspada. Mengenali tipu daya dan strategi syetan dalam menyesatkan manusia, serta menjadikannya sebagai musuh abadi. Apabila ada anggota keuarga yang lalai, maka harus segera diingatkan, agar tidak keterusan atau lalai berkepanjangan.

4. Komitmen dengan ajaran Islam

  Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu hari Rasulullah menggaris lurus ditanah, lalu beliau membuat garis-garis lain di kanan dan kirinya. Lalu beliau bersabda, “Yang ini (garis lurus) adalah jalan Allah. Sedangkan yang lainnya (garis kanan kirinya) adalah jalan dimana syetan mengajak kalian kepadanya. Lalu beliau membaca ayat 153 dari surat al-An’am.” (HR. Abu Daud, Ahmad dan Hakim)

  Setiap saat dan setiap waktu, kalau kita lengah maka syetan akan memanfaatkan kelengahan itu. Di saat ada anggota keluarga sakit yang tak kunjung sembuh, syetan membisikan agar si sakit diobatkan ke dukun. Saat anak membandel dan nakal, syetan membujuknya agar datang ke orang pintar untuk menghilangkan kebengalannya, lain sebagainya. Kalau kita sudah bertekad untuk menjadikan Islam sebagai agama, seharusnya kita menyelesaikan masalah keluarga dengan cara-cara yang dibenarkan Islam.

5. Banyak berdzikir

  Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam (SAW) bersabda, “…Dan aku perintahkan kalian untuk berdzikir kepada Allah yang banyak. Perumpamaan orang yang berdzikir itu seperti orang yang dicari-cari dan dikejar-kejar oleh musuh. Lalu ia mendapatkan benteng kokoh yang bisa melindungi dirinya dari kejaran musuh tersebut. Begitulah seorang hamba, dia tidak selamat dari gangguan syetan kecuali dengan berdzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadits hasan shahih)

  Dzikir kepada Allah SWT tidak hanya berupa ucapan atau bacaan, termasuk membaca isti’adzah. Dzikir juga bisa berupa perbuatan. Berpuasa termasuk dzikir, menunaikan zakat termasuk dzikir serta pelaksanaan ibadah lainnya. 

 Begitu juga mengendalikan hawa nafsu saat mau terjerumus dalam kemaksiatan, lalu ia membatalkan kemaksiatan tersebut, itu juga merupakan dzikir. Tolong menolong antar anggota keluarga untuk mengingat dan melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya merupakan benteng yang kokoh.

6. Beristighfar dan bertaubat

  Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya syetan telah berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam mereka (masih hidup).’ Maka Allah menimpalinya, ‘Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan (beristighfar) kepada-Ku’.” (HR. Ahmad, al-Hakim, Thabrani dan Abu Ya’la).

  Setiap kita tak luput dari kesalahan, maka dari itu Allah SWT menyediakan sarana untuk menebus kesalahan dan menghapus dosa yang ada, salah satunya adalah dengan membaca istighfar, lalu bertaubat secara benar. 

  Dengan begitu, apabila ada keluarga yang telah melakukan kesalahan, hendaklah diingatkan agar segera memperbaiki diri. Apabila telah melakukan kemaksiatan, hendaklah segera istighfar dan bertaubat. Dengan demikian syetan akan menangis karena celah yang ada segera ditutup, dan benteng keluarga jadi kokoh kembali.

7. Bergabung dalam Komunitas Muslim (Berjama’ah)

  Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan kenikmatan surga, maka hendaklah ia senantiasa hidup berjama’ah. Karena syetan itu bersama dengan orang-orang yang suka sendirian. Ia akan semakin jauh bila orang tersebut berdua.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadits hasan shahih)

  Kekompakan keluarga harus kita jaga, agar satu sama lainnya terkontrol dan merasa disayangi dan diperhatikan. Shalat dilaksanakan dengan berjama’ah. Yang laki-laki di Masjid, yang perempuan juga. Atau jika bisa berjama’ah di rumah, antar ibu dan anak perempuanya, itu akan lebih baik lagi. 

  Makan juga bersama agar lebih berkah. Kekompakan dan kebersamaan akan menjadi benteng kokoh dalam keluarga, aman dari serangan syetan jin, dan selamat dari hasutan manusia. Insya Allah


Rumah Ruqyah Indonesia
November 08, 2019
thumbnail

Laksana Debu Bertaburan

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-06


Sholat Malam Istri Harun Al Rasyid

  Keikhlasan dalam beribadah itu penting. Ia bahkan menjadi syarat utama diterima atau tidaknya sebuah pengabdian. Temuilah Allah di tengah malam dan lakukanlah Sholat Sunnah Tahajjud dua roka’at minimal. Selain untuk melatih keikhlasan, hal itu juga akan menjadi tabungan amal yang sangat bernilai di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT). Lihatlah sebuah kisah tentang manfaat Shalat Malam berikut ini.

  Zubaidah, istri Khalifah Harun Al Rasyid pergi menunaikan ibadah Haji. Ketika itu rombongan kafilahnya adalah rombongan yang paling terakhir berangkat dari Baghdad. Ditengah melaksanakan rukun kelima itu, ia menyaksikan pemandangan yang cukup mengenaskan.

   Ia melihat dengan mata kepala sendiri beberapa orang jamaah yang sedang dalam kepayahan karena tengah menahan rasa haus dahaga yang teramat sangat. Istri sang Khalifah ini rupanya tersentuh hatinya. Ia lalu menyumbangkan hartanya dalam jumlah yang cukup banyak buat membantu orang-orang yang tengah dilanda kehausan itu.

  Beberapa hari selanjutnya, istri sang Khalifah itu meninggal dunia. Puteranya atau salah seorang kerabatnya bermimpi bertemu dengannya. Dalam rupa yang sangat elok dan juga dalam keadaan yang sangat baik. Segala puji bagi Allah. Karunia adalah berasal dariNya, sedangkan datangnya bencana adalah akibat perbuatan kita sendiri.

Dalam mimpi itu, sang anak bertanya; “Wahai Ibu, apa yang Allah berikan kepadamu?”

Wanita itu menjawab; “Tidak ada satu pun keluarga kita yang mampu menolongku. Aaku pergi menghadap Tuhanku laksana debu yang bertaburan.

Sang anak berkata; “Maha Suci Allah. Bukankah Ibu pernah menolong beberapa orang jamaah Haji yang sedang merasa kehausan dan kelaparan?”

Wanita itu menjawab; “Benar, akan tetapi hal itu kulakukan dengan tidak ikhlas.

Si anak bertanya lagi; “Lalu apa yang mendatangkan manfaat bagimu?”

  Wanita itu menjawab; “Yang bermanfaat bagiku adalah Sholat dua rakaat yang biasa kulakukan pada tengah malam. Menjelang larut malam aku biasa bangun dari tidurku. Setelah berwudhu, aku keluar rumah untuk memandangi bintang gemintang yang bertaburan di atas langit nan cerah seraya berucap: “Tidak ada Tuhan selain Allah”.

  Itulah kebiasaan yang aku lakukan dalam hidupku. Dan ternyata itulah yang menyebabkan Tuhan berkenan mengampuni dosa-dosaku."

  Subhanallah. Beruntunglah orang yang Ikhlash serta menjauhi sifat riya (ingin dilihat dan dipuji orang lain) dalam melakukan kebaikan.

Disarikan dari Kitab Dawa’ al Qulub Al Maridhah, Syaikh Aidh bin Abdullah Al Qarni.

Sumber: Majalah Ghoib Edisi No.1 Th 1/1423 H/2002 M
November 06, 2019
thumbnail

Renungan Kematian

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-04


RENUNGAN KEMATIAN

  Saya pernah menunggui seorang pasien yang sakaratul maut. Sudah 1 pekan ia masuk ICU tidak sadarkan diri, namun tak kunjung ada perubahan bahkan pasien cenderung semakin gelisah, kadang dalam keadaan tidak sadar ia berteriak-teriak tidak karu-karuan. Terkadang ia meneteskan air mata, dan tiba-tiba ia seperti kesakitan yang luar biasa.

  Sore itu saat dinas di RS, saya dipanggil untuk menunggui pasien tersebut, tanda-tanda vital kehidupannya sudah menurun. Keluarga sudah pasrah, dan berharap diberikan jalan yang terbaik untuk ayahanda mereka. Beberapa kali ayahanda mereka masih berteriak-teriak.

  "Bapak dulu pernah bertugas di Aceh dok. Ada satu peristiwa yang tidak bisa bapak lupakan. Saat itu selepas waktu Ashr, ada gerakan di balik semak-semak dekat perbatasan. Bapak langsung berteriak, "Siapa di situ! Berhenti atau saya tembak!" Rupanya gerakan di semak-semak itu tidak berhenti, lalu bapak memberi peringatan kedua, dan tanpa pikir panjang bapak segera menembak semak-semak itu."

  Terdengar lengkingan suara yang lemah, dan ketika bapak periksa ternyata sosok yang ia tembak adalah sosok anak kecil yang sedang bermain kelereng. Dadanya berlubang dan ia sudah tewas saat itu. 

  Semenjak saat itu bapak selalu dibayang-bayangi wajah anak itu, juga bayangan dosa yang telah ia lakukan. Kami sekeluarga sudah menduga bahwa proses sakaratul maut bapak pasti akan panjang, karena kami yakin amalan manusia itu pasti akan diperlihatkan sesaat menjelang kematiannya..."

***

  Kasus-kasus serupa kejadian di atas sudah beberapa kali terjadi di rumah sakit. Ada juga yang meninggal dalam keadaan muka gosong menghitam, padahal ia rajin shalat, puasa dan mohon maaf berpredikat "Kyai". Proses kematiannya pun sangat menyakitkan. 

  Setelah ditelusuri, almarhum pernah mengambil alih tanah wakaf milik yayasan menjadi tanah pribadi. Namun tidak jarang saya menjumpai kamar pasien yang telah meninggal mendadak berbau wangi seperti wangi bunga. Pasien tersebut rupanya seorang Takmir masjid yang senantiasa melayani umat untuk berjamaah.

Dan masih banyak lagi yang lain berkaitan dengan proses kematian.

  Yang penting kita pahami di sini adalah, bahwasanya perbuatan kita, sekecil apa pun itu, apalagi jika berkaitan dengan haqqul Adami, pasti akan dimintai pertanggungjawaban dengan adil oleh Allah Azza wa Jalla. Kita tidak mungkin mengelak dari semua perilaku kita, terkadang kita bakal diperlihatkan posisi kita kelak, apakah di neraka atau di surga bahkan sebelum ajal datang menjemput.

  Bayangkan jika membunuh satu jiwa saja kata Rasul ibarat membunuh seluruh manusia, pelakunya pun sudah sedemikian rupa siksanya menjelang sakaratul maut. Apalagi jika ia membunuh dan berbuat dholim sampai puluhan bahkan ratusan korbannya.

  Kadang ada yang berdalih, "Gimana lagi ini perintah atasan untuk tembak di tempat..." Ketahuilah, bahwa setiap diri kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita kerjakan semasa di dunia. Ingat apa kata Iblis ketika di akhirat banyak pengikutnya yang meminta iblis bertanggung jawab karena telah menjerumuskan mereka? 

  Iblis berkata, "Aku berlepas diri dari pertanggungjawaban atas perbuatanmu. -bahasa kekiniannya, "Ya salahmu sendiri, mengapa mengikuti perintah ku-"

Nauzubillahi min dzalik tsuma nauzubillah...

  "Ya Allah ya Rabbi, hindarkan lah kami dari kerusakan yang kan menjerumuskan kami ke liang neraka-Mu, dan lindungilah kami dari orang-orang yang dhalim lagi aniaya. Ya Allah, selamatkanlah duniawi kami juga akhirat kami. Hanya kepada-Mu lah ya Allah, kami menyerahkan diri kami, maka wafatkanlah kami bersama orang-orang yang shaleh. Ya Allah, kabulkanlah doa kami."

Wallahu a'lam bish showab

Komunitas Bisa Menulis

Monte Selvanus
November 04, 2019
thumbnail

Asuransi Terbaik

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-01


  Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua Khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. 

  Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

   Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang Fi Sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan penunggang kuda.

Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.

  Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

  Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.

Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.

  Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.

Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,

Ayat yang pertama,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

  “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang Shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

  Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang Shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.

Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,

 “Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,

  “Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”

Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,

  “Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. 

  Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)

  Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.

 Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”

Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”

Mereka pun mendudukkannya.

  Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. 

  Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah:

 ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). 

  Anaknya Umar satu dari dua jenis: Shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

  Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

  Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.

  Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.

Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:

  Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

  Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.

Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah.

Ustadz Budi Ashari Lc
November 01, 2019
thumbnail

Gangguan Jin Terhalang Jilbab Syar'i

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-30


Kisah Sebelumnya...

  Begitu mendapat ruqyah yang keempat kali dari Ustadz Fadhlan rasa takut saya semakin hilang.tetapi tiba-tiba di depan rumah saya ada ular besar berwarna hijau. Saat itu pukul 16.00. Ular itu bisa dilihat orang yang sedang lewat dengan warna hijau, sedang anak saya yang sudah masuk TK dan sudah mengenal warna, bilang warnanya hitam.

  Kemudian ular itu naik pohon kol Banda tempat ditanamnya rajah dulu. Saya mengamati terus gerakan ular itu, namun tiba-tiba ia menghilang entah ke mana. Untuk lebih meyakinkan saya, saya menunggui pohon kol Banda itu hingga pohon itu ditebang, dipotong-potong sampai habis, namun ular itu tak kami dapati.

  Benjolan dileher saya pun sudah mulai mengecil dan saya sudah bisa bicara normal. Bisa lancar wirid Al Matsurat setiap pagi dan sore. Saya bisa tidur nyenyak dan tidak mimpi buruk lagi.

  Sholat bisa khusu’, tilawah Al Qur’an pun lancar kembali. Sebenarnya saya didorong Mas Rohib untuk dapat memenuhi satu Juz sebagai muwashafat (target pencapaian amal). Tapi Tajwid saya masih perlu dibenahi. Paling tidak sekarang bisa lancar dulu.

  Namun, pada suatu malam Ahad, saya bermimpi seperti menggunakan jubah putih yang besar, kerudung besar. Kemudian diserang seekor ular yang besar. Tapi, ia hanya bisa lewat di depan saya.

  Tapi ada lagi yang menyerang wajah saya. Sehingga begitu pagi keesok harinya saya nggak bisa apa-apa. Kemudian setelah diruqyah oleh mas Rohib dengan ditotok-totok kepala saya dan mendengarkan kaset Ustadz Fadhlan, saya lalu berkeringat dan terasa ringan kembali.

  Walaupun saya tahu orang yang membuat saya sengsara, namun sikap saya dengan orang yang menanam rajah baik-baik saja. Saya berusaha menegur duluan jika bertemu di jalan. Apalagi selama saya diruqyah, penanam rajah itu sakit-sakitan terus. Sampai muntah darah dan suaranya terdengar hingga di rumah saya bagian belakang.

  Kebetulan, rumahnya memang di belakang rumah saya. Akhirnya dia minta obat ke sini. Dan karena nggak ada dendam dan benci, dengan senang hati kami melayani permintaannya untuk menjaga hubungan tetangga.

 Lain halnya dengan Bapak Suyitno, pemilik tanah yang mau dibangun gereja itu, mengalami sakit berat dan aneh selama masa-masa saya diruqyah. Ia mengalami kelumpuhan, stroke dan lama dirawat di rumah sakit.

  Namun selama itu pula para dokter belum menemukan jenis penyakit yang dideritanya. Bahkan anak perempuannya, Bu Nanik (50 th) juga sakit berat hingga meninggal.

  Lalu pihak keluarga Bapak Suyitno menyarankan untuk minta maaf pada kaum Muslimin sekitar dan pada keluarga saya. Alhamdulillah mereka minta maaf dan saya bersama mas Rohib malah pergi ke sana untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhannya.

  Begitu ia minta maaf dan saya bersama mas Rohib memaafkan, saat itu juga ia langsung sembuh dan dapat berbicara dan berjalan sebagaimana semula. Kami pun langsung mohon pamit untuk mengajar. Karena Mas Rohib kini telah mengajar di SMU 1 Suruh Salatiga sejak Mei 2002. Alhamdulillah jadi lebih dekat.

Atas peristiwa yang menimpa saya itu, ada suatu yang sangat berkesan pada diri saya dari pengakuan Jin.

“Kami tidak bisa mencelakai kamu, karena kamu selalu menutup auratmu dengan memakai Jilbab besar.”

Bagi saya, semua ini adalah perjalanan rohani yang sangat mahal. [Selesai]

*Seperti diceritakan Ibu Diah Rianasari, SPd kepada Wartawan Ghoib di Suruh Salatiga, Jawa Tengah.

Sumber : Majalah Ghoib Edisi No 1. Th 1/1423 H/2002 M
October 30, 2019
thumbnail

Serial 4 Alam Jin: Rupa Setan

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-29


Bahasan kali ini akan ditindaklanjuti dengan melihat rupa setan. Di antaranya setan itu adalah makhluk yang memiliki tanduk dan rupa yang buruk.

Rupa Setan

  Setan memiliki rupa yang amat jelek. Bahkan dalam khayalan setiap orang pun sudah tertanam. Kepala setan pun digambarkan dalam Al Qur’an seperti mayang dari pohon yang keluar dari dasar neraka. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,

إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ (64) طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ (65)

Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.(QS. Ash Shaffaat: 64-65).

 Orang Nashrani di masa silam menggambarkan setan sebagai laki-laki yang hitam kelam yang memiliki jenggot, alis mata yang runcing ke atas, mulut yang mengeluarkan nyala api, bertanduk, memiliki kuku yang panjang dan berekor.

Setan Memiliki Dua Tanduk

Dalil yang menunjukkan bahwa setan memiliki dua tanduk:

Hadits Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَحَرَّوْا بِصَلاَتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلاَ غُرُوبَهَا فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بِقَرْنَىْ شَيْطَانٍ

Janganlah kalian melaksanakan shalat saat matahari terbit dan saat tenggelam karena waktu tersebut adalah waktu munculnya dua tanduk setan(HR. Muslim no. 828).

Dari Ibnu ‘Umar pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا طَلَعَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوا الصَّلاَةَ حَتَّى تَبْرُزَ ، وَإِذَا غَابَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوا الصَّلاَةَ حَتَّى تَغِيبَ  وَلاَ تَحَيَّنُوا بِصَلاَتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلاَ غُرُوبَهَا ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ

Jika matahari mulai terbit, tinggalkanlah shalat sampai terang (matahari terbit). Jika matahari mulai tenggelam, tinggalkanlah shalat, sampai benar-benar hilang (tenggelam). Janganlah kalian bersengaja mengerjakan shalat ketika matahari terbit dan tenggelam karena matahari terbit pada dua tanduk setan.(HR. Bukhari no. 3273)

 Makna hadits di atas adalah bahwa sekelompok orang musyrik dahulu menyembah matahari. Mereka sujud pada matahari ketika akan terbit dan tenggelam. Ketika itu setan berdiri di arah matahari itu berada supaya orang-orang menyembahnya. Hal ini ditegaskan dalam hadits berikut,

صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ

Laksanakanlah shalat shubuh kemudian berhentilah mengerjakan shalat hingga terbit matahari, hingga pula matahari meninggi karena matahari terbit ketika munculnya dua tanduk setan dan saat itu orang-orang kafir sujud pada matahari. Kemudian setelah itu shalatlah karena shalat ketika itu disaksikan.

Dan hadits itu disebutkan pula,

حَتَّى تُصَلِّىَ الْعَصْرَ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

Hingga engkau shalat ‘Ashar kemudian setelah itu berhentilah shalat hingga matahari tenggelam karena saat itu matahari tenggelam antara dua tanduk setan dan saat itu orang-orang kafir sujud pada matahari. (HR. Muslim no. 832).

  Hadits larangan shalat di atas dipahami untuk shalat yang tidak memiliki sebab seperti shalat sunnah mutlak, yaitu asal shalat sunnah saja dua raka’at. Jika shalat yang memiliki sebab seperti tahiyyatul masjid, shalat gerhana, shalat setelah wudhu, atau qodho’ shalat yang luput, maka dibolehkan meskipun pada waktu terlarang untuk shalat. 

Karena dalam hadits larangan di atas disebutkan,

وَلاَ تَحَيَّنُوا بِصَلاَتِكُمْ

Janganlah mengerjakan shalat (yang tidak memiliki sebab) secara sengaja …

Hanya Allah yang memberi taufik.

Muhammad Abduh Tuasikal

Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.

Sumber : Muslim.or.id

October 29, 2019
thumbnail

Praktik Perdukunan, dari Mistik sampai Intrik [Bag.2]

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-26




Praktik Perdukunan yang Sarat lntrik [Bag.2]

Artikel sebelumnya...


  Ternyata tidak semua seperti itu. Apalagi dengan kecanggihan teknologi dan kemajuan zaman. Semua cara bisa dimodifikasi atau direkayasa dan disesuaikan dengan kebutuhan. Setelah Majalah Ghoib berinteraksi dengan sebagian dukun untuk menguak kedoknya, atau wawancara dengan mereka yang sudah bertaubat. 

  Ternyata gambaran praktik perdukunan yang tersebut di atas, tidak semua benar. Artinya mereka tidak selalu lengket dengan mistik atau berbau klenik. 

  Banyak di antara mereka dalam praktiknya penuh dengan rekayasa, penuh intrik (persekongkolan rahasia) dan dusta. Mereka hanya bondo nekat (bonek). Pandai bersilat lidah dan bermain kata-kata. Mereka lincah dalam membuat intrik dan tipu daya atau rekayasa.


  Seperti yang telah diceritakan Andre dalam salah satu kesaksian yang kita muat dalam edisi ini. Dukun bermodal intrik, bukan mistik. 

  Anak kecil dengan mata tertutup rapat bisa menebak warna baju orang yang di depannya. Orang yang diikat kuat, dimasukkan karung, dimasukkan peti dan digembok rapat, lalu bisa keluar dari belenggu-belenggu itu dengan cepat. Ternyata semua itu bukan mistik, tapi hanya intrik ada rumus tertentu yang bisa dipelajari siapa pun.



  Keris bisa bersinar saat dipegang, baju disentuh bisa terbakar, dibacok golok atau senjata tajam tidak terluka, tangannya memegang dada orang lain, bisa keluar cahayanya. 

 ltu hanyalah atraksi-atraksi, yang selama ini dikonotasikan sebagai hal yang spektakuler, dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang ilmu supranaturalnya tinggi, ahli linuwih, punya koneksi langsung dengan lelembut, dan tidak sembarang orang bisa melakukannya. 

  Walhasil, ternyata itu semua rekayasa dan jauh dari mistik, dan setiap orang bisa mempelajari, walau tanpa ritual aneh dan nyeleneh.



  Begitu juga yang diceritakan oleh Ipon. Walaupun pada awalnya, ia berusaha untuk mempelajari ilmu yang bernuansa mistik, toh akhirnya dia tertambat praktik perdukunan yang sarat intrik. 

  Dengan trik khusus ia bisa menciptakan energi listrik yang bisa mengalir di tubuhnya, atau di tubuh orang lain yang ia pegang. Dengan intrik itu ia telah mengelabuhi pasien-pasiennya. la juga telah meng-KO dukun lainnya. Bahkan dengan intrik yang sama ia berhasil memperdaya dukun yang dulu pernah menjadi gurunya.



  Apa yang dilakukan Andre dan lpon dengan praktik perdukunan yang sarat intrik dan rekayasa, memang tidak menyeretnya kepada kesyirikan. Karena teknik praktiknya hanya rekayasa. 

  Hanya saja keduanya telah melakukan kebohongan. Dan kebohongan itu sendiri juga termasuk dosa besar. Banyak orang yang terpeleset akidahnya, lebih mempercayai kemampuannya dan percaya penuh bahwa energi yang dimilikinya itu yang telah menyembuhkan penyakit yang diderita pasien.



  Alhamdulillah, hidayah Allah masuk ke hatinya, sehingga ia masih punya kesempatan untuk bertaubat. Keduanya pun menyesal, dan minta maaf kepada orang-orang yang pernah dikelabuinya. 

  Sungguh merupakan keputusan yang berat, saat popularitas mencuat dan kehidupan ekonomi yang mulai terangkat. Lalu keduanya harus meninggalkan itu semua. 

  Keduanya memilih kemuliaan yang sejati, bukan kemuliaan yang semu. Kemuliaan sejati itu hanya bisa diperoleh dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya (Lihat QS. al-Hujurat: 13). 

  Semoga langkah keduanya diikuti yang lainnya, yang masih rajin mengelabuhi orang lain dengan trik dan intrik. Dan orang-orang yang pernah dikelabuhinya pun mau memaafkan kekhilafannya.



  Tipe dukun penipu atau hanya mengaku-ngaku dengan berbagai macam rekayasa biasa, tidak punya kekuatan mistik, yang dipraktikkan sarat dengan intrik. Begitulah pernyataan Gus Wachid. 

  Dia sudah banyak survei dan membuktikan sendiri bahwa dalam kenyataannya, banyak dukun yang buka praktik hanya bermodal intrik. “Mereka itu tukang gedabrus (membual) dan goroh (dusta). Saya sudah sering mendatangi praktik dukun yang terkenal sakti di wilayah Jawa Timur, tapi ternyata mereka tidak ada apa-apanya”, tegas Gus Wachid kepada Majalah Ghoib.



  Pada zaman dahulu, ada juga orang yang tidak bisa ilmu perdukunan lalu berpraktik dukun. la hanya menggunakan intrik sebagaimana kebanyakan dukun-dukun sekarang. 

  Cerita itu tertulis dalam rentetan hadits yang telah dibukukan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya.

   Aisyah berkata, “Abu Bakar mempunyai seorang pembantu. Kalau ia datang dan membawa makanan untuknya, Abu Bakar ikut memakannya. Pada suatu hari ia membawa makanan, Abu Bakar pun memakannya. 

  Kemudian pembantu itu bertanya, ‘Apakah kamu tahu, makanan apakah itu?’ Abu Bakar balik bertanya, ‘Memangnya makanan apa?’ Saya tadi melakukan praktik perdukunan pada seseorang seperti pada zaman Jahiliyyah, padahal sebenarnya saya bukanlah seorang dukun. 

  Hanya saja saya melakukan intrik (membohonginya). Lalu orang tersebut menghampiriku dan memberiku makanan tadi, untuk menghalangi dan makanan yang sebagiannya menggagalkannya. 

  Kasus yang telah kamu makan. Serta-merta Abu Bakar memasukkan jari tangannya ke (mulutnya), dan memuntahkan semua isi perutnya.” (HR. Bukhari, hadits nomor 3554).



 Kalau praktik mereka hanya intrik. Lalu darimana datangnya kesembuhan pasien-pasiennya? 

  Inilah sebagai bukti nyata, bahwa kesembuhan itu datangnya dari Allah, bukan dari ruang dan bilik praktik para dukun. Mereka hanya berusaha, baik dengan praktik yang bau mistik atau hanya intrik.



  Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin. Tidak melanggar syari’at. Dengan begitu, apabila dengan usaha itu sakit kita sembuh, maka kita akan mendapatkan dua kebahagiaan. 

  Kebahagiaan sembuh dan kebahagiaan karena usaha kita berpahala. Dan kalau belum sembuh, Allah akan mengganti rasa sakit kita dengan dileburnya dosa-dosa kita dan dilipat gandakan pahala kita, karena kita sabar dalam menghadapi musibah yang diberikan-Nya.



  Syetan tidak akan melepaskan buruannya begitu saja. Ya, syetan tidak akan melepas orang-orang yang pernah bekerjasama atau terjerumus dalam perangkapnya begitu saja. 

  Banyak pasien yang bercerita ke Majalah Ghoib seputar hambatan-hambatannya saat mau menjalankan terapi ruqyah syar’iyyah. Syetan berusaha untuk menghalangi dan menggagalkannya. 

 Kasus yang dialami ibu Mona misalnya. Sebetulnya ia sudah hampir setahun lamanya ia telah mengenal ruqyah dari Majalah Ghoib, tapi selalu ada rintangan menghalanginya untuk berangkat dan menjalani terapi. 

  Dan tembok penghalang  taubat juga dibangun oleh kakeknya, karena dialah yang diproyeksikan untuk mewarisi ‘ilmu’ atau jinnya.



 Rintangan sejenis juga dihadapi Mas Tito. Keluarga besarnya melarangnya untuk membuang ilmu mistik yang telah diwarisinya, mereka tidak ingin jin yang ada di tubuhnya diusir dengan ruqyah syar’iyyah. 

  Dan sampai ketika ia menuturkan ceritanya pun, jin jahat itu sering hadir dalam mimpinya untuk mengajaknya kembali ke dunia semula. Semoga Allah memberinya kekuatan untuk terus berada di jalan-Nya.



  Gangguan saat menuju pertaubatan juga di alami Ipon. Saat ia mau berangkat ke Jakarta untuk diruqyah di kantor Majalah Ghoib, ada bisikan-bisikan ghaib yang berusaha menggagalkannya. 

  Ia ditakut-takuti syetan, bahwa murid dan pasiennya akan marah-marah. Tapi ia berhasil memenangkan pertarungan iman itu, Alhamdulillah.



  Yang lebih mistik lagi adalah bujukan syetan yang dialami KH. Ahmad Muhammad Suhaimiy. Saat ia mau meninggalkan praktik perdukunannya, jin jahat datang dan memberinya hadiah beberapa keping lempengan emas. 

  Tidak hanya itu, ia juga disuap dengan cek yang nilainya US $ 1.000.000. Sungguh menggiurkan. Tapi itu hanya tipu daya jin saja. Dan cek itupun tidak bisa dicairkan.



  Keimanan dan tawakkal kepada Allah harus terus ditumbuhkan, agar kita tidak gamang dalam menapaki jalan yang benar, dan tidak silau oleh bujuk rayu syetan. Raja syetan (lblis) telah bersumpah di hadapan Allah, “Ya Tuhanku, karena Engkau telah menghukum saya sesat. Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.”(QS. Al-A’rat: 16).



  Faktor utama yang sering dijadikan syetan untuk menghalang-halangi para pelaku praktik berdukunan dari taubat adalah ekonomi atau materi. Syetan menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan dan kefakiran, apabila mereka menutup praktik perdukunan atau meninggalkannya. 

  Seperti yang dialami Ipon dan Mona. Al-Qur’an mengingatkan kita,”Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan. Sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadanya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268.


Disarikan dari Majalah GHOIB
October 26, 2019
thumbnail

Pintu-Pintu Neraka

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-25


Pintu-Pintu Neraka


  Seorang Mukmin harus meyakini bahwa Neraka adalah benar adanya. Ini bagian penting dari keimanan, utamanya iman kepada yang Ghoib. Di sanalah, tempat atau kesudahan bagi orang-orang yang Kafir kepada Allah. Di sana pula tempat segala macam Adzab diancamkan Allah untuk hamba-hambaNya yang durhaka kepadaNya.

  Neraka juga memiliki Pintu. Jumlah pintu Neraka ada tujuh. Hal itu dengan jelas bisa dilihat dalam Firman Allah, “Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut Syetan) semuanya. Tiap-tiap Pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (QS. Al Hijr : 43-44)

  Seorang Ahli Tafsir yang sangat terkenal; Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut di atas mengatakan: “Yakni telah ditetapkan bagi setiap Pintu dari tujuh itu bagian untuk orang-orang yang mengikuti Iblis, mereka memasukinya secara pasti. Semoga Allah melindungi kita darinya. Masing-masing masuk deri sebuah pintu sesuai dengan amalnya dan menetap di dalam Neraka sesuai amalnya.”

  Ibnu Katsir juga mengutip perkataan Imam Ali bin Abi Thalib; “Pintu-pintu Jahannam ada tujuh, sebagiannya berada di atas yang sebagian yang lain. Yang Pertama penuh lebih dulu, kemudian yang Kedua, kemudian yang Ketiga, hingga semuanya penuh.”

  Alangkah mengerikannya Neraka. Bahkan bila sekedar bicara pintunya. Pintu-pintu pun bahkan kelak akan dibuka secara mengerikan, ketika para penghuninya akan memasukinya. Hal itu bisa dirasakan dalam Firman Allah ketika menggambarkan perbedaan antara bagaimana Pintu Surga dibuka dan bagaimana Pintu Neraka dibuka.

  “Orang-orang Kafir dibawa ke Neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke Neraka itu, dibukalah Pintu-pintunya…” (QS. Az Zumar: 71)

  Artinya, ketika orang-orang Kafir itu mau masuk Neraka, seketika dibukalah pintunya begitu mereka telah sampai. Dan, mereka pun terlempar ke dalamnya!

  Sementara, ketika orang-orang Mukmin mau masuk Surga, ketika mereka menjelang masuk, Pintu itu sudah terbuka. Seakan mempersilahkan mereka dengan penuh hormat dan penuh kecintaan.

  Allah Berfirman: “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalamurga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke Surga itu sedang Pintu-pintunya telah terbuka…” (QS. Az Zumar : 73)

  Yang lebih mengerikan lagi, Pintu-pintu itu kelak akan ditutup rapat, manakala orang-orang Kafir telah memasukinya, sebagaimana diperingatkan Allah dalam FirmanNya: “Dan orang-orang yang Kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah golongan kiri. Mereka berada dalam Neraka yang ditutup rapat.” (QS. Al Balad : 19 – 20). Dalam penjelasan Ibnu Abbas, pintu itu tertutup artinya pintu itu dikunci.

  Sungguh mengerikan bila membayangkan Neraka. Karenanya, setiap Mukmin diperintahkan untuk tidak terlena selama hidup di dunia yang fana ini.

  Kepada Allah jualah kita memohon perlindungan dari Neraka, yang kengeriannya tak pernah terbayangkan oleh ukuran kengerian dunia.

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 1 / 1423 | 2002 M

October 25, 2019
thumbnail

11 Tahun Usai Pertanyaan "“Yang Jadi Istrimu Nanti Harus Perempuan ya, Zal?" [Bag.3] Selesai

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-24



Kisah sebelumnya...

Fahmi kemudian berkisah tentang dirinya. Entah bagaimana ceritanya, kelainan itu ada sejak ia masih duduk di kelas 2 SD. Ketika melihat ibunya berganti pakaian dan mengenakan –maaf- bra, ada rasa dalam dirinya ingin memakai juga.

  Waktu ibunya pergi ke pasar, diam-diam ia masuk ke kamar ibunya, mengambil bra dalam lemari, lantas membawanya ke kamar sendiri. Di dalam kamar ia memakai bra tersebut sembari berkaca. Kurang puas, ia masuk lagi ke kamar ibunya mengambil lipstick. Dioleskan lipstick tersebut di bibir, berkaca lagi. Kemudian ia berjalan lenggak-lenggok macam model perempuan di tivi.

  Fahmi juga bercerita, dari kecil ia memang lebih suka main bersama anak cewek. Main masak-masakan, dandan-dandanan, gendong bayi dari boneka, dll. Ia merasa lebih nyaman kumpul dengan cewek. Dia senang jadi cewek. Hal itu membuat dia dibully di sekolah. Disebut banci serta bencong.

  Dan yang paling membekas dalam hidupnya adalah ketika dia kelas 4 SD, seorang remaja lelaki SMP tak tau untung mengajaknya ke semak-semak dekat rumah. Lalu terjadilah peristiwa tersebut. Itulah pertama kali ia mendapatkan pelecehan seksual.

  Perilaku Fahmi yang tak seperti anak laki-laki lain, membuat orang tuanya curiga. Pada suatu hari, kecurigaan itu pun menjelma nyata tatkala pada suatu siang, mereka mendapati Fahmi berdandan layaknya ibu-ibu. Ia memakai bra, daster, lipstick dan jepit rambut. Orang tua Fahmi sangat sabar. Ia tidak dimarahi hanya dinasehati kalau laki-laki tidak boleh berpakaian seperti itu.

  Setelah lulus SD, Fahmi langsung didaftarkan ke pondok pesantren. Fahmi yakin, tujuan orang tua mendaftarkannya ke pesantren, agar ia bisa berubah, mendapat bekal agama yang baik.

  Tapi perilaku Fahmi selama di pesantren tidak berubah. Malah, di sana ‘keanehan’ dia mendapat apresiasi dari teman-teman sekamar. Fahmi seperti botol yang ketemu tutup. Dulu, ia sembunyi-sembunyi ketika ingin berdandan ala perempuan. 

  Sekarang teman-temannya malah yang memfasilitasi. Entah dari mana, teman-teman sekamar Fahmi memberinya daster dan lipstick, jika waktu istirahat tiba, Fahmi disuruh memakai semua perabotan cewek itu. Teman-temannya tertawa, Fahmi pun senang.

  “Percaya atau tidak,” begitu ucap Fahmi, “Di pondok aku juga pernah mengalami pelecehan. Sama seperti yang aku alami saat SD. Yang ngelakuin ya kakak kelasku.”

  Kami menutup mulut. Benar-benar tak menyangka. Bahkan di lingkungan pesantren pun ada oknum santri yang seperti itu.

  Seusai menuntaskan sekolah Aliyah, Fahmi memutuskan kuliah. Kuliah tempat dia saat ini.

“Selama kuliah kamu suka cowok di kelas ndak, Mi?” Rani kembali bertanya. Semangat betul dia mengorek sisi pribadi Fahmi.

Yang ditanya mengangguk.

“Siapa?”

“Rizal.”

Bibir langsung mengucap istighfar saat namaku disebut.

“Mi,” aku segera menanggapi, “Eh, maaf, apa kamu sadar kalau perilakumu itu menyimpang?”

Fahmi mengangguk lagi dan berucap lirih. “Tapi aku benar-benar gak ngerti kenapa aku punya perasaan seperti ini.”

“Tapi jujur,” Rudi sekarang menimpali, “Apakah kamu punya keinginan pada perempuan.”

 “Ndak punya. Tapi aku ingin sembuh. Aku ingin kayak laki-laki normal. Menikah dan punya anak. Tapi di mana aku mengadu? Di mana aku harus curhat? Aku gak tau. Karena setiap aku cerita begini, pasti dianggap lucu-lucuan. Atau yang paling parah dianggap aib.”

Saat itu. Kami semua tak bisa berkata apa pun.

***

Mei 2019…

Tujuh tahun sudah aku meninggalkan kampus dengan membawa gelar sarjana sosial. Dua tahun setelah wisuda, aku menikah. Dan kini telah dikaruniai seorang anak lelaki.

Pada suatu sore, aku membaca pesan di grup WA alumni, dari Rani,

[Teman-teman, gak adakah yang mau jenguk Fahmi? Insya Allah selasa aku sama suami mau jenguk. Barangkali ada yang mau bareng.]

Aku segera mengetik balasan, [Fahmi sakit apa, Ran?]

[TBC.] Rani jawab singkat.

Dibalas sama alumni lain, [Padahal Fahmi gak pernah merokok, loh, ya?]

[Ayo siapa yang mau ikut? Kita bisa bareng.] Rani tak menjawab pertanyaan terakhir.

[Ran,] ketikku, [maaf aku gak bisa ikut ke rumah Fahmi. Ada kerjaan, ngisi raport online siswa. Nanti kalau sudah sampai di rumah Fahmi, aku mau video call.]

[Oke, Zal.]

Persis sepulang dari sholat isya’, Rani WA aku, [Zal, ini aku sudah di rumah Fahmi. Mau video call?]

Aku balas cepat, [Mau.]

Lalu Rani ngevideo call aku, tak lama kemudian hapenya dipegang Fahmi.

[Assalamualaikum, Rizal.]

Ya Allah, lihatlah, tubuh Fahmi nampak kurus sekali. Mukanya yang dulu tembem sekarang jadi tirus. Mataku langsung berembun melihat kondisinya.

[Eh, waalaikumsalam, Fahmi. Gimana keadaannya?]

[Alhamdulillah enakan. Kamu gimana? Katanya sudah jadi guru?]

Aku mengangguk.

[Sudah berapa anakmu, Zal?] tanyanya.

[Baru satu.]

Percakapan kami tersendat karena sinyal yang kurang bagus.

[Zal, aku minta maaf kalau punya banyak salah, ya?]

[Kamu gak punya salah apa-apa ke aku. Lekas sembuh ya.]

[Aamiin. Makasih, Rizal.]

Sesi video call kami benar-benar terhenti setelah itu.

Dan ternyata, itulah terakhir kalinya aku berbicara dan menatap wajah Fahmi.

Sebab, dua hari berselang aku mendapat kabar bahwa Fahmi dilarikan ke rumah sakit umum daerah. Statusnya kritis. Itu berita yang tersebar di grup pada siang hari. Dan di subuh sehari setelahnya, Rani memberi kabar di grup,

[Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Telah meninggal teman kita Fahmi Hamid, pukul 02.30 dini hari tadi. Mohon doanya semoga Allah mengampuni beliau dan menerima segala amal kebaikannya.]

Pesan itu menghentak kalbu. Ya Allah. Batas usia hamba hanya Engkau yang tau. Tapi mohon, berikan hamba kematian yang husnul khotimah.

[Ran, kapan dikuburkan?] tanyaku di grup.

[Kata keluarga segera.]

[Oke, aku hari ini izin libur ngajar. Mau ke sana.]

Karena harus memandikan si kecil, dan beres-beres aku baru bisa berangkat pukul 06.30 wib. Kalau lancar, aku akan sampai di rumah duka sejam kemudian, mengingat jarak yang cukup jauh. Di tengah perjalanan, terdengar suara dering hape tanda ada pesan WA masuk. Aku membuka pesan itu ketika berada di lampu merah.

Ternyata itu pesan dari Rani. Dia mengirim foto satu petak makam penuh bunga, tak lupa diberi caption, “Selamat Jalan Kawan.”

Aku merasa ada yang ganjil. Seolah pemakaman Fahmi diburu-buru. Seperti tak mau ada orang tahu pemakamannya. Bahkan nampak di foto hanya segelintir orang yang datang menguburkannya. Segera aku menepi dan menjapri Rani.

[Ran, maaf kalau dirasa lancang. Sebenarnya Fahmi sakit apa?]

Pesanku terbalas segera, [Tapi tolong jangan bilang siapa-siapa ya?]

[Iya.]

[Fahmi positif HIV.]

Allahu Akbar! Aku benar-benar tak menyangka akan hal ini.

Lalu tanpa diminta Rani menjelaskan,

[Enam bulan lalu, Fahmi pernah bercerita kalau dia ‘main’ sama anak Jawa Barat. Nah, dia yakin kalau anak itu yang nularin, karena ‘itu’ nya bernanah waktu dimasukin.]

Aku membaca pesan itu dengan menahan mual.

[Aku dikasih tau dokternya waktu nemenin keluarga si Fahmi. Ibunya malu, Zal. Makanya ngarang kalau Fahmi kena TBC. Jasad Fahmi itu ditreatment khusus. Soalnya bisa nular. Itu sebabnya pemakamannya dibuat cepet, gak nunggu keluarga yang dari luar kota dulu.]

Sumpah, aku seperti tak bisa bernafas membaca penjelasan Rani. Tak menyangka Fahmi melakukan hal sejauh itu. Ya Allah, mohon lindungi semua dari perbuatan yang membuat-Mu murka.

***

Epilog

POV Penulis

“Gitu ceritanya, Fit.” Rizal menjelaskan semua kronologis kisah temannya padaku, “Minta tolong tuliskan kisah ini, ya. Aku gak pandai merangkai kata sepertimu. Semoga setelah ini banyak orang yang sadar betapa bahayanya perbuatan eljibiti itu.”

Aku mengangguk lemah. Mendengar kisahnya membuatku begidik ngeri. Tak sampai terfikir ada orang yang melakukan hal keji itu. Bahkan teman dekat sendiri.

“Makanya, aku sebel banget, Fit, Kalau ada orang yang memaklumi perilaku eljibiti dengan alasan hak asasi manusia. Dia bisa ngomong kayak gitu karena gak kena ke keluarganya sendiri. Coba kalau anaknya yang kena HIV, apa masih bisa dia bicara hak asasi? 

  Dosa dari perbuatan itu emang hakmu, tapi akibatnya bisa sekampung kena. Jasad Fahmi dikasih penanganan khusus, dibungkus rapat, supaya tidak ada cairan dari tubuhnya yang jatuh dan kena orang lain, bisa nular. Bahkan yang memandikan jasadnya pun harus pakai baju khusus. Ngeri, Fit. Sumpah.”

“Kalau menurutmu apa ya, Zal, langkah untuk meminimalisir hal ini?” aku bertanya. Sebagai sesama rekan guru, aku mengenal betul Rizal orangnya pemikir dan suka baca. InsyaAllah aku akan dapat jawaban yang memuaskan darinya.

“Menurutku, pertama, kita harus peduli. Ketika melihat ada saudara atau kerabat yang terindikasi penyakit eljibiti itu, maka langkah pertama kita harus dekati dia. Didekati agar mau disembuhkan alias direhab. Itulah salahku pada Fahmi. 

Saat mengetahui dia punya kelainan, aku malah menjauhi dia. Bahkan tak pernah kontak setelah lulus kuliah, akhirnya dia memilih jalan yang ia anggap benar, padahal jalan itulah yang membuat celaka. Nah, sayangnya, para ‘penderita’ kelainan ini malu untuk ‘berobat’, karena dianggapnya aib. 

Kalau orang kena penyakit lain segera ke dokter, tanpa malu. Tapi kalau sakit yang ini mana ada pasien yang rela datang berobat? Padahal penyakit ini juga tak kalah ngeri akibatnya. Itu sebabnya harus didampingi, terutama keluarga, didampingi sampai sembuh.”

Aku masih mendengarkan.

“Kedua, penyebab kelainan ini tak pernah bisa tuntas adalah, karena selalu ditutup-tutupi. Ini seperti fenomena gunung es. Yang nampak di permukaan hanya sebagian kecil saja, yang tak kelihatan itu yang malah luar biasa banyak. 

Faktanya, jika anggota keluarga kena HIV akibat dari perilaku menyimpang itu, mereka akan bilang anaknya kena TBC. Malu, itu wajar. Tapi akibatnya adalah bahwa perilaku menyimpang itu dianggap tidak bahaya oleh orang lain. 

Padahal bahayanya luar biasa. Aku salut banget sama keluarga yang terus terang pada orang lain bahwa anaknya kena HIV akibat kelakuan menyimpang. Akhirnya orang pada hati-hati. “

“Dan ketiga, selain kuatkan doa serta pendidikan seksual pada anak, kita juga harus STOP tayangan orang-orang yang berlagak banci. Meski hanya sekedar lucu-lucuan. Kalau lagi nonton tivi ada adegan orang banci, langsung matikan. 

Kalau di kampung diadakan lomba bapak-bapak pakai daster, pakai lipstick, segera usul ke RT agar dibatalkan. Diganti lomba lain. Banyak lomba lain yang lebih seru dan lucu ketimbang pakai pakaian yang tak wajar. 

Bukankah Rasul melaknat orang laki-laki yang berpakaian menyerupai wanita? 

Kita tidak sadar, bahwa pemakluman terhadap laki-laki yang memakai baju perempuan, bisa membuat warga jadi menganggap remeh tentang eljibiti ini. Kita tak pernah tau bahwa tawa kita melihat bapak-bapak pakai baju perempuan bisa berakibat tangisan tak berujung.”

Aku kembali mengangguk, dan berjanji akan menuliskan pengalaman sahabatku ini nanti.

****

Surabaya, 11 Oktober 2019
02.35 wib

Fitrah Ilhami

--
Mohon maaf bila banyak typo dalam tulisan ini, karena selain diposting tanpa editing, tulisan ini diketik dengan keadaan menahan kantuk. Sebab hanya di waktu dini hari lah aku baru sempat nulis.

Sumber : Alumni212.id
October 24, 2019