cookieChoices = {};
Latest Post

Adab Terhadap Kedua Orang Tua Bag Kedua

Written By Rumah Ruqyah on 2015-07-28 | 1:23 AM

Adab Terhadap Kedua Orang Tua Bag Kedua
Selasa, 12 Syawal 1436 H - 28 Juli 2015


  Atha' bin Yasar meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Ibnu Abbas. Ia berkata, "Saya melamar seorang perempuan, tapi dia menolak lamaran saya. Lalu ada orang lain yang melamar wanita tersebut dan dia menerima lamarannya.

  Saya cemburu. Maka saya bunuh perempuan itu. Apakah taubat saya masih bisa diterima?" Ibnu Abbas bertanya, "Ibumu masih hidup?"

  "Tidak", jawab laki-laki tersebut.

  "Bertaubatlah kepada Allah. Dan dekatkan dirimu (beribadahlah) kepada Allah sebisa mungkin. Kemudian Atha' bin Yasar pergi menemui Ibnu Abbas, "Mengapa kamu bertanya tentang ibunya?"

  "Saya tidak melihat sebuah perbuatan yang paling dekat kepada Allah selain berbuat baik kepada ibu." Diriwayatkan Imam Thabari dalam tafsirnya.

  Itulah bukti lain kedudukan seorang ibu di mata anak-anaknya. Sehingga Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada seorang pembunuh agar ia berbuat baik kepada ibunya.

  Berikut adalah petikan beberapa adab terhadap orangtua yang bisa dijadikan rujukan bagaimana seharusnya seorang berbakti kepada ibu bapaknya.

1. Tidak memanggil ibu bapak dengan namanya, tidak duduk sebelum orangtuanya duduk dan tidak berjalan di depan orangtuanya.

  Sebagai bentuk penghormatan seorang anak kepada kedua orangtuanya, maka ia harus memanggil mereka berdua dengan panggilan yang menyenangkan. Dengan panggilan kesayangan orangtuanya. Sungguh sangat tidak pantas bila ada seorang anak yang dengan gagah berani memanggil mereka berdua dengan namanya langsung.

  Patut disyukuri bahwa etika ini berkembang luas di masyarakat kita. Di mana mereka tidak rela kedua orangtuanya disebut namanya langsung tanpa didahului kata pak atau bu.

  Namun, pada sisi lain masih ada beberapa hal yang layak dijadikan sebagai catatan bahwa tidak jarang di antara kita, seorang anak yang tanpa sengaja mengurangi rasa hormat kita kepada mereka.

  Taruhlah pada saat jalan berdua atau bertiga bersama orangtua. Kita berjalan mendahului mereka. Hal ini sering kita lakukan tanpa merasa bersalah.

  Padahal secara jelas dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Abu Hurairah melihat dua orang yang sedang berjalan. Lalu dia bertanya kepada salah seorang dari mereka, "Apa hubungan orang ini dengan kamu?"

  "Dia bapak saya", jawab orang tersebut. Abu Hurairah berkata, "Jangan memanggilnya dengan menyebut namanya, jangan berjalan di depannya dan jangan duduk sebelum dia duduk." (HR. Abdul Razaq dan Baihaqi)

2. Tidak berbicara kasar kepada orangtua, tidak menghardiknya

  Bila kebetulan, orangtua kita sudah sepuh/tua. Masa-masa kejayaannya sudah berlalu. Dulu mereka tidak mau meminta bantuan kepada anak-anaknya. Hampir semua masalah yang ada ingin mereka selesaikan sendiri.

  Tapi kini, setelah berjalannya waktu, mereka tidak bisa lagi seperti dulu. Faktor usia dan segala permasalahannya membuat mereka harus berdiam diri di rumah. Di rawat anak-anaknya.

   Sebenarnya ini adalah kesempatan emas seorang anak untuk menunjukkan baktinya  kepada kedua orangtuanya. Dengan memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka. Bukan sebaliknya. Menjadikan orangtua sebagai sasaran kemarahan.

   Hanya karena masalah sepele sudah berani berkata kasar kepada mereka. Padahal dalam kacamata agama ungkapan 'ah' yang ditujukan kepada orangtua sudah terlarang. Apalagi sampai menghardiknya.

  "Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. al Isra': 23)

  Sebaliknya. Sayangilah kedua orangtua lebih dari kita menyayangi diri sendiri. Dengan segala kekurangannya yang ada. Karena dengan semua hal seperti itu, kita masih belum bisa membalas budi mereka yang tidak lagi ternilai.

  "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih kesayangan. Dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Qs. Al Isra': 24)

3. Minta Izin kepada keduanya

  Kebiasaan untuk selalu minta izin kepada orangtua bila hendak bepergian, harus dibiasakan dan tetap dipertahankan walaupun kita telah besar. Jangan hanya terjadi saat kita masih kecil. Lalu dengan semakin bertambahnya usia, kemudian menganggap diri kita sudah mampu menjaga diri sendiri dan tidak perlu lagi meminta izin kepada orangtua.

   Pada sisi lain, kebiasaan untuk minta izin harus tetap dikembangkan pada masalah-masalah yang jauh lebih besar. Biasakanlah untuk selalu bertukar pikiran dengan orangtua dalam mengambil sebuah keputusan penting.

  Karena pandangan dan pendapat orangtua terkadang banyak membantu kita. Terutama pada masa-masa yang sulit.

  Hal seperti ini sudah dikembangkan Rasulullah sejak empat belas abad yang lalu. Seperti tersebut dalam hadits. Abu Said meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki berhijrah dari Yaman. Kemudian dia berkata, "Ya Rasulullah. Sungguh saya telah berhijrah."

  Rasulullah bertanya, "Apakah kamu punya keluarga di Yaman?" "Kedua orangtua saya," jawab laki-laki itu.

"Apakah mereka berdua mengizinkanmu (berhijrah)?" Tanya Rasulullah.

"Tidak", jawab laki-laki itu.

  "Kembalilah dan mintalah izin kepada mereka berdua. Bila mereka mengizinkanmu maka ikutlah berjuang dan bila tidak, maka berbuat baik kepada keduanya." (HR. Abu Dawud).

  Meminta izin kepada kedua orangtua sebelum melakukan urusan yang besar seperti dalam kisah di atas atau urusan kecil sekalipun adalah sebuah awal keberkahan. Karena sebuah spontanitas, orangtua yang baik lisannya selalu basah dengan doa untuk tujuan baik anak-anaknya.

  Sehingga jalan rencana dan usaha anak-anaknya bisa lancar dan sukses. Jadi, mengapa tidak kita biasakan adab yang baik ini?

Sumber: Majalah Ghoib (dalam kenangan)

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum - Iedul Mubarak 1436 H

Written By Rumah Ruqyah on 2015-07-09 | 9:34 PM


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tak terasa beberapa hari lagi kita mendapati Idul Fitri. Sedih bersambut Gembira. Sedih karena ditinggal Ramadhan, gembira mendapati hari kemenangan. Semoga semua amalan kita di bulan Ramadhan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ikhwah Fillah, dengan ini juga ini kami mengabarkan 'jam tayang' selama Ramadhan dan Syawal, bahwa:

Terakhir kami membuka layanan:

Senin, 26 Ramadhan 1436 H - 13 Juli 2015 

adalah hari terakhir dan akan membuka pelayanan kembali

Selasa, 5 Syawal 1436 H - 21 Juli 2015.

Dengan ini juga, kami mengucapkan:

”Taqabbalallahu minna wa minkum, 
Iedul Mubarak”

  “Semoga Allah menerima amal-amal kami dan kamu, 
Selamat Merayakan Iedul Fitri 1436 H”

[Shocking Video] - Meruqyah Jin Harimau Betina

Written By Rumah Ruqyah on 2015-07-08 | 12:21 AM




Berikut ini akan terlihat seorang ibu yang bereaksi seperti Harimau. Alhamdulillah, dengan izin Allah bisa tertangani oleh team Ruqyah Rumah Ruqyah Indonesia; Ustadz Anang Sofyan.

***

Kunjungi kami di

www.rumahruqyah.com

Informasi dan Free Konsultasi Online:

WA 081282171204, pin Bb 2901EE02 (Only Chatting)

Hotline Service: 021- 8087-2602, 0851-0503-5459

Santunan Anak Yatim 2015

Written By Rumah Ruqyah on 2015-07-02 | 11:24 PM

 Santunan Anak Yatim 2015
 Jum'at, 16 Ramadhan 1436 H ~  03 Juli 2015


Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman:

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak mengajak memberi makan orang miskin". (Qs. Al Ma'un: 1 - 3)

 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak dan ibu kaum Muslimin yang berbahagia. Di bulan yang penuh berkah ini, Yayasan Rumah Ruqyah Indonesia akan mengadakan buka puasa bersama dan pembagian bingkisan untuk yatim dan dhuafa di sekitar.

Diperkirakan dana yang dibutuhkan:

100 Anak Yatim @ Rp. 200.000,- = Rp. 20.000.000,-

Kami mengajak bapak dan ibu untuk berpartisipasi pada kegiatan santunan diatas dengan menghubungi Ustadz Achmad Junaidi Lc 08158710659 atau UstadzAkmad Sadzali Lc 081289454846.

Bisa juga langsung mentransfer norek. 1160029482 Bank Syariah Mandiri an. Yayasan Rumah Ruqyah Indonesia.

Semoga Allah mengganti kedermawanan Bapak dan Ibu yang menyumbangkan sebagian rezekinya. Jazakumullah Khairan Katsiran.

Bantu sebarkan ya, semoga menjadi amal jariyah kita semua.

Ruqyah Syar’iyyah adalah Life Style Rasulullah SAW

Written By Rumah Ruqyah on 2015-06-28 | 11:01 PM

Ruqyah Syar’iyyah adalah Life Style Rasulullah SAW


Oleh. Hasan Bishri, Lc.

  Ruqyah Syar’iyah adalah salah satu dari bagian dari ragam terapi yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam kepada ummatnya. Namun sayang, masih banyak kaum muslimin yang belum mengetahuinya, bahkan ada yang apriori dan antipati. 

  Mereka menganggap bahwa Ruqyah Syar’iyah itu klenik dan mistik yang sarat unsur syirik. Sehingga mereka enggan untuk mempelajarinya bahkan cenderung menolak dan menjauhinya.

    Padahal Rasulullah sendiri telah menjadikan terapi Ruqyah Syar’iyah sebagai bagian dari Life Style, baik di saat dalam kondisi sehat yang difungsikan sebagai pagar ghaib untuk menjaga diri dari berbagai macam kejahatan yang mengancam keselamatan, atau beliau gunakan Ruqyah Syar’iyah sebagai terapi dan pengobatan dari berbagai macam penyakit yang beliau rasakan. 

   Simaklah penuturan istri Rasulullah, Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut: Aisyah ra. berkata: Apabila Rasulullah saw. merebahkan tubuhnya di pembaringannya, beliau meniup kedua telapak tangannya seraya membaca: surat al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas keseluruhan. Lalu beliau mengusapkan kewajahnya dan seluruh anggota tubuhnya yang bisa dijangkau kedua tangannya”.(HR. Bukhari, no. 5748).

   Lalu simak pula penuturan Aisyah ra. Dalam hadits lain yang kevalidannya telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut: Aisyah ra. berkata: “Apabila Rasulullah merasa sakit, maka beliau membaca (meruqyah dirinya dengan) surat-surat perlindungan (al-Mu’awwidzat), lalu meniupkannya. (HR. Muutafaqun ‘alaih).

   Kedua hadits tersebut perawinya sama, yaitu bunda Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dan asbabul wurudnya berbeda. Yang Pertama, ruqyah mandiri dilakukan Rasulullah saat mau tidur (tidak dalam kondisi sakit) dan itu beliau lakukan di setiap malam. 
 
   Dan yang Kedua, ruqyah mandiri dilakukan Rasulullah saat beliau merasakan suatu penyakit. Meskipun kondisinya berbeda, tapi perhatikanlah kembali kedua riwayat tersebut, ternyata bacaan yang dibaca Rasulullah sama, yaitu al-Mu’awwidzat (Surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas).

  Rasulullah telah menjadikan aktifitas Ruqyah Syar’iyah sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari, baik di saat sehat amaupun di saat beliau sedang sakit. Apakah kita yag selama ini bertekad menjadikan beliau sebagai panutan dan tauladan hidup sudah melakukan seperti yang beliau lakukan? 

   Kalau jawabannya belum, marilah kita belajar Ruqyah Syra’iyah dengan benar, agar kita bisa mempraktikkannya setiap hari dan setiap diperlukan, sebagaimana yang dilakukan oleh Tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallohul Mustaan.

(Consultan dan Praktisi Ruqyah Graha Ruqyah Jakarta)

Dahsyatnya Ruqyah Syar’iyyah di Bulan Ramadhan

Written By Rumah Ruqyah on 2015-06-24 | 10:24 PM

Dahsyatnya Ruqyah Syar’iyyah di Bulan Ramadhan
Selasa, 23-06-2015 - 5 Ramadhan 1436 H


Oleh. Hasan Bishri, Lc.

   Bulan Ramadhan juga disebut sebagai bulan al-Qur’an, karena di bulan Ramadhan al-Qur’an diturunkan Allah ke langit dunia, lalu diturunkan kepada Rasulullah melalui Malaikat jibril secara bertahap. 

   Bulan Ramadhan juga merupakan bulan yang sangat tepat untuk kita jadikan sebagai ruang dan tempat berdo’a. Karena banyak waktu dan momentum yang mustajab jika kita panjatkan do’a di dalamnya.

   Menurut Syekh Nashiruddin al-Albani rahimahullah: "Ruqyah Syar’iyah adalah bacaan (do’a) yang terdiri dari ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah yang shahih, untuk memohon kesembuhan kepada Allah dari gangguan yang ada, atau memohon kepada-Nya perlindungan dari kejahatan yang akan datang atau yang dikhawatirkan." (Lihat Kitab Dhaif Sunan Tirmidzi: 231).

Ramadhan Bulan Do’a

   Ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk memperbanyak do’a di dalamnya. Simaklah pesan Allah tentang do’a yang diselipkan di antara ayat-ayat yang menjelaskan tentang puasa Ramadhan di suarat al-Baqarah ayat 183 sampai ayat 187. 

   Allah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku sangat dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah: 186).

   Di dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga manusia yang do’anya tak tertolak: Pemimpin yang adil, Orang berpuasa sampai berbuka, dan Orang yang dizhalimi.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, ia menghasankannya).

Double power Bersatu

   Dua kekuatan do’a berkumpul dalam bulan Ramadhan. Kekuatan waktu dan kekuatan individu. Kekuatan pertama adalah kekuatan bulan Ramadhan. Ramadhan adalah waktu yang mustajab untuk berdo’a, apalagi di saat-saat tertentu. Seperti saat berbuka, saat sepertiga malam hari atau saat bersantap sahur. 

   Yang kedua kekuatan individu orang yang sedang puasa Ramadhan. Peruqyah yang sedang puasa dan pasien ruqyah yang sedang puasa adalah kekuatan do’a yang dahsyat. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah dalam hadits shahih di atas, orang yang sedang puasa tidak tertolak do’anya.

   Lalu kenapa banyak kaum muslimin yang ragu menjalani terapi ruqyah di bulan Ramadhan? Apakah mereka takut bahwa ruqyah itu akan membatalkan puasanya? Atau mereka takut kalau ruqyah bisa melemahkan fisiknya saat puasa? 

   Kalau itu ketakutan mereka, berarti itu ketakutan yang tidak berdasar pada dalil syari’at. Aktifitas ruqyah tidaklah membatalkan puasa seseorang. Kalau diruqyah pada siang hari bulan Ramadhan bisa membatalkan puasa seseorang, tentu Rasulullah semasa hidupnya pasti melarang aktifitas ruqyah di bulan Puasa. 

   Karena ruqyah syar’iyah itu sudah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Silakan melakukan ruqyah di bulan Ramadhan, dan rasakan Dahsyatnya. Wallahul musta’an.

Graha Ruqyah Dan Bekam Majalah Ghoib

Video Ruqyah Singkat ~ Ustadz Achmad Junaedi Meruqyah Tiga bersaudari

Written By Rumah Ruqyah on 2015-06-22 | 10:45 PM




Video Singkat Ustadz Achmad Junaedi lc (Direktur Rumah Ruqyah Indonesia) terbagi dalam 5 bagian. Video yang antum saksikan ini merupakan bagian yang pertama. Untuk bagian-bagian selanjutnya bisa diklik dibawah ini.

Video 2, Video 3, Video 4, Video 5.

*****

www.rumahruqyah.com

Contact us: 
- 021 - 808 72602 / 085105035459
- 081282171204, pin Bb 2901ee02 (Undang Seminar, Kajian, Pelatihan, Ruqyah Massal)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rumah Ruqyah Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger