Latest Post

Tour of Ruqyah Belitung 2014 (Video Version)

Written By Rumah Ruqyah on 2014-11-25 | 10:51 PM




Oleh-oleh Tour of Ruqyah Belitung 2014 (Video Version) Link terkait

Rumah Ruqyah Indonesia

*****

Contact Us:

- Official Marketing Rumah Ruqyah Indonesia : 085881306984, pin: 2901EE02
- Ruqyah Online: 082310823344, pin: 2950FE59
- Grup WA: 081282171204
- Office: 021 - 8092329, 021 - 70035459

Kisah Pelaku Maksiat Dapat Hidayah Melalui Anaknya Yang Bisu Dan Tuli

Kisah Pelaku Maksiat Dapat Hidayah Melalui Anaknya Yang Bisu Dan Tuli


Saya seorang pria berumur 37 tahun. Sudah menikah dan dikaruniai anak. Salah satunya Marwan yang masih berusia 7 tahun. Allah memberinya kekurangan berupa tuli dan bisu. Meski demikian, sungguh dia telah disusui keimanan dari air susu wanita yang beriman dan seorang penghafal Al-Quran.

Oh ya, meski istri saya wanita beriman. Saya sudah melakukan banyak hal yang dilarang oleh Allah ta’ala dan dosa-dosa besar.

Shalat saja jarang saya lakukan secara berjamaah kecuali kalau ada acara-acara tertentu saja sebagai bentuk simpati (menarik perhatian) terhadap orang lain. Terus terang, teman saya kebanyakan kurang baik dan para pesulap. Mungkin karena itu syetan selalu bersama saya dalam banyak waktu.

Suatu malam saya dan Marwan sedang di rumah. Kala itu, bertepatan shalat Maghrib. Saya sedang merencanakan pergi bersama teman-teman. Namun tiba-tiba anak saya, Marwan memberi isyarat-isyarat (bahasa tubuh yang hanya saya dan dia yang mengerti).

Kira-kira isyaratnya kala itu begini: “Wahai bapakku, kenapa engkau tidak shalat?” Kemudian dia mulai mengangkat tangannya ke langit dan mengancam saya dengan maksud menunjukkan isyarat bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala melihat saya.

Saya jadi kaget (terharu) dengan perkataannya dan mulailah anak saya menangis di depan saya. Saya berusaha menariknya namun rupanya dia kabur.

Beberapa saat kemudian, dia menuju kran dan mengambil wudhu. Ia lalu shalat di depan saya. Usai shalat dia berdiri dan mengambil mushaf Al-Quran, meletakkannya di depannya dan membolak-balik kertas-kertasnya lalu meletakkan jarinya tepat pada Surat Maryam;

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَن فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيّاً

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku (Ibrahim) khawatir, bahwa kamu akan ditimpa azab oleh Yang Maha Pengasih, maka kamu menjadi kawan bagi syetan.” (Q.S Maryam ayat:45).

  Melihat kejadian itu saya tak kuasa menangis dalam waktu yang cukup lama. Lalu dia berdiri dan menghapus air mata saya sambil tak lupa mencium kepala dan tangan saya sambil berkata dengan isyarat yang kira-kira artinya: “Shalatlah wahai bapakku sebelum kamu diletakkan dalam tanah dan menjadi jaminan azab.”

  Demi Allah Yang Maha Besar, saya dalam keadaan bingung (hilang akal) dan takut. Sungguh, tidak ada satu orangpun yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu Wata’ala.

   Maka saya segera menghidupkan lampu-lampu rumah semuanya sambil ia mengikutiku dari kamar ke kamar dengan melihatku penuh keheranan.

  “Tinggalkanlah lampu-lampu itu, mari kita pergi ke masjid (maksudnya Masjid Nabawi yang mulia).”

   “Tidak, kita akan pergi ke masjid yang ada di dekat rumah kita saja, “ begitu kataku.

    Iapun masih menolak ajakan saya, karena dia hanya ingin pergi ke Masjid Nabawi. Dan saya akhirnya pergi ke sana meski dalam keadaan takut sekali.

    Kami masuk ke Raudhoh, sedang saat itu penuh dengan manusia. Tak beberapa lama, dikumandangkanlah iqamah untuk shalat Isya. Imam membaca firman Allah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

   “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan dan barangsiapa mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya dia (syetan) itu menyuruh perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepadamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: An-Nur: 21).

   Mendengar bacaan imam, saya tak kuasa menahan tangisan. Rupanya, Marwan pun ikut menangis karena terpengaruh tangisan saya. Di pertengahan shalat, rupanya Marwan mengeluarkan sapu tangan dari kantong saya lalu menghapus air mata saya dengan sapu tangan itu.

    Usai shalat, saya masih menangis lagi. Marwan kembali menghapus air mata saya sampai-sampai saya duduk (berada) di masjid Nabawi satu jam penuh. Karena kerasnya tangisan saya, membuat Marwan mendinginkan suasana.

“Sudahlah pak, jangan takut, ” ujarnya.

    Kami lalu pulang ke rumah dan malam itu adalah malam yang sangat mengagumkan bagi saya. Di mana saya seolah lahir kembali.

    Tak lama hadirlah istri saya dan anak-anak saya. Mereka mulai menangis semuanya, padahal mereka tidak tahu sedikitpun apa yang telah terjadi.

   Saat itu berkatalah Marwan pada mereka semua, ”Tadi bapak shalat di Masjid Haram.”

    Mendengar kabar ini, senanglah istri saya. Akhirnya saya menceritakan semua pada istri tentang apa yang terjadi antara saya dan Marwan.

    “Aku bertanya kepadamu dan demi Allah, apakah kamu yang datang padanya (pada Marwan) dan menyuruhnya membuka mushaf untukku saat itu?,” demikian pertanyaanku saat itu.

     Saat itu istrku bersumpah pada Allah tiga kali bahwa sesungguhnya dia tidak tak pernah melakukan hal itu pada Marwan.

   “Pujilah Allah (bersyukurlah pada Allah) karena kamu dapat hidayah ini, “ ujar istriku kala itu.

   Sungguhnya, malam itu adalah malam yang paling berkesan (indah).

   Sekarang, Alhamdulillah saya tidak pernah lagi meninggalkan shalat berjamaah di masjid. Dan sungguh, saya telah meninggalkan (menjauhi) teman-teman yang buruk semuanya.

    Kini saya telah merasakan keimanan sebagaimana saya juga hidup penuh kebahagian, kecintaan dan saling menyayangi bersama istri dan anak-anak saya. Lebih khusus anak saya Marwan yang tuli lagi bisu. Bagaimana tidak, sedangkan saya telah mendapat hidayah melalui dia.*/pemilik cerita ini adalah salah satu penduduk Kota Madinah. Artikel ini diterjemahkan oleh Heggy Fajrianto Herman dari akun FB Syekh Mohammad Hasan di www.facebook.com/elsheikh.mohamed.hsaan

Hidayatullah.com

New Produk [Kiropraksi]

Written By Rumah Ruqyah on 2014-11-23 | 10:38 PM

Gambar di dapat: bekam-padang.blogspot.com

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Kabar Gembira, mulai ini hari tanggal 24 November 2014, Rumah Ruqyah Indonesia meluncurkan pelayanan baru. Kiropraksi.

Apa itu kiropraksi? merupakan metode pengobatan dengan cara pembetulan posisi tulang belakang yang mengalami dislokasi ataupun perubahan stuktur dari posisi yang normal.

Manfaat Kiropraksi: mengatasi kasus sesak nafas, sakit pinggang, punggung bahkan keluhan yang menyangkut syaraf yang ada kaitannya dengan dislokasi tulang belakang. Bahkan untuk masalah reproduksi, Insya Allah terapi ini sangat membantu. (www.ismaka.com)

Bagi yang ingin merasakan manfaat dari Kiropraksi, bisa langsung meluncur ke Rumah Ruqyah Indonesia.

Spesial promo bagi yang datang di bulan Desember.

Rumah Ruqyah Indonesia

Rumah Bekas Pemujaan Kera Membawa Sengsara

Written By Rumah Ruqyah on 2014-11-21 | 12:00 AM

Rumah Bekas Pemujaan Kera Membawa Sengsara


   Rumah adalah istana keluarga. Tempat saling berbagi suka dan duka. Itulah rumah idaman setiap orang. Tapi, bila rumah dijadikan sebagai tempat pemujaan jin, masalah demi masalah terus bermunculan. Yang menyedihkan, kehancuran rumah tangga tinggal menunggu waktunya.

   Seperti pengalaman Wulan (nama samaran), seorang ibu rumah tangga beranak satu asal Sukabumi. Dengan ditemani suaminya, Wulan menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Bogor : Berikut petikan kisahnya.

   Pada tahun 1982, bapak membeli sebuah rumah yang bisa dibilang cukup tua di Cisaat, Sukabumi. Rumah panggung tipe kuno dengan dinding gedhek beranyamkan bambu, seluas lima puluh kali sepuluh meter. Sebenarnya rumah tersebut oleh pemiliknya, sebut saja ibu Kokom (bukan sebenarnya), dibagi menjadi tiga ruangan dengan tiga pintu.

    Kalau di kota besar seperti Jakarta, rumah itu disebut dengan rumah petak. Bedanya hanya terletak pada keberadaan pintu yang menghubungkan antara rumah yang satu dengan lainnya. Sehingga setiap anggota keluarga tidak harus melalui pintu utama untuk masuk rumah sebelahnya.

    Ia cukup hanya melewati pintu samping yang menghubungkan antar rumah. Ibu Kokom sendiri menempati petakan bagian tengah sedangkan anak anaknya tinggal di petakan sebelah kanan dan kirinya. Pada waktu membeli rumah tersebut, kami sekeluarga tidak mempunyai pikiran apa-apa.

    Bapak sendiri juga tidak tahu banyak tentang latar belakang keluarga ibu Kokom. Dan saya kira itu wajar saja. Bapak bukanlah seorang detektif sehingga harus bertanya macam-macam. Meski desas-desus yang pernah sampai ke telinga bapak mengatakan bahwa tidak sedikit pedagang yang mencari penglaris dengan datang ke dukun.

    Ibu Kokom termasuk dalam kelompok mereka. Kabar semacam ini bukan hanya tersebar dikalangan pedagang pasar Cisaat saja, tapi hampir merata di berbagai kawasan pasar. Sehingga Bapak tidak punya prasangka buruk ketika membeli rumah tersebut.

     Kebetulan Bapak membeli petakan tengah yang dulu menjadi tempat tinggal ibu Kokom. Sedangkan sebelah kiri dibeli oleh seorang guru dan sebelah kanan dibeli orang lain. Saya akui, memang saya tumbuh dilingkungan keluarga yang sesekali muncul riak-riak kecil.

    Saya sadar bahwa roda kehidupan tidak selalu meluncur diatas jalan tol. Kadang melewati tanjakan atau bahkan turunan yang curam. Belum lagi bila di sana-sini banyak jalan yang rusak. Saya masih menyimpan harapan bahwa riak-riak itu tidak semakin membesar.

    Tapi harapan itu hanya tinggal harapan. Kenyataan yang terjadi justru semakin menyakitkan setelah saya sekeluarga menempati rumah di Cisaat.tersebut. Pertengkaran antara ibu dan bapak semakin meningkat. Hanya dikarenakan masalah yang sepele Bapak langsung marah.

    Misalnya ketika makanan buatan ibu tidak sesuai dengan selera bapak, maka piring pun langsung melayang. Isinya berhamburan di lantai. Sungguh, kasihan ibu yang telah memasaknya dengan peluh keringat. Terlebih ketika mendengar omelan-omelan bapak yang menyakitkan telinga.

    Mendapat perlakuan demikian ibu langsug membalas dengan kemarahan juga. Dan adu mulut tidak lagi bisa dihindari. "Kita cerai saja," kata ibu setiap kali bertengkar. Saya ingin meredakan kemarahan mereka, tapi apalah daya.

    Saya waktu itu masih anak-anak yang masih belum bisa berbuat banyak. Hanya tatapan mata yang penuh kepedihan yang terlontar. Entahlah, waktu itu saya masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa bara rumah tangga semakin memanas.

     Sebenarnya kejadian-kejadian aneh yang diluar nalar sudah mulai bermunculan sejak pemugaran rumah pada tahun 1985. Sejak rumah gedhek berganti dengan tembok dua lantai. Sementara sumur yang dulunya terletak dibelakang rumah, sekarang telah ditimbun dan disulap menjadi dapur.

     Di sinilah, di dinding dapur awal keanehan itu terjadi. Sekitar satu meter dari lantai, sesekali terlihat seekor kera putih menempel di dinding layaknya seekor cicak saja. Kera putih itu hanya menampakkan dirinya kepada ibu.

    Ia seakan tidak mau dilihat oleh orang lain. "Itu kera putih,'' jerit ibu suatu saat. Namun ketika saya menengok ke dinding yang ditunjukkan ibu, kera putih itu sudah tidak lagi terlihat. Entahlah, mengapa demikian.

    Saya hanya merasakan tiupan-tiupan kecil disekitar tengkuk saya. "Wahh...,'' jerit saya terpekik. Badan saya langsung merinding dibuatnya. Saat itu saya sendirian dan tanpa pikir panjang saya mengambil langkah seribu. Lari...

    Yang penting terbebas dari tiupan makhluk aneh yang tidak terlihat. Saya membayangkan seekor kera putih sedang iseng menggoda saya. Peristiwa demi peristiwa itu membuat saya bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi dengan rumah yang saya tempati.

    Saya coba mencari jawaban. "Pemilik rumah ini dulunya adalah seorang pemuja kera,'' hanya  itulah jawaban yang saya terima. Saya bertanya kembali kepada tetangga kiri kanan, ''Ibu Kokom adalah seorang pemuja kera putih yang meninggal sebelum perjanjiannya dengan kera putih terselesaikan. Ibu Kokom ingin dagangannya laris,'' tutur seorang warga penduduk asli Cisaat kepada saya.

    Sewaktu kakek saya dari pihak ibu yang masih memiliki garis keturunan Hamengku Buwono III bermain ke rumah, ia merasakan keanehan, ''Rumah ini memang tidak wajar. Dingin,'' ujar kakek beberapa saat setelah istirahat.

     Akhirnya kami sekeluarga menceritakan apa yang kami alami secara bergantian. Pada malam jum'atnya terdengar kegaduhan dari kamar kakek di lantai dua. Suara itu persis orang berkelahi. Tidak lama kemudian, terlihat kakek menuruni tangga dengan tangan ke belakang.

   Ia seperti menggendong seorang seorang anak dipunggung. Kakek terus berjalan kaki ke arah Situ Gunung. Katanya jin kera itu minta digendong dan dipindahlan ke Cicurug. Apa yang dilakukan kakek rupanya tidak banyak membantu. Hawa panas yang menyelimuti anggota keluarga tetap saja tidak hilang.

 Derita Ibu Yang Sakit Kulit Bertahun -tahun Hingga Meninggal. 

    Sejak tahun 1996 ibu menderita sakit yang aneh. Aneh karena penyakit ibu selalu berganti-ganti. Hari ini gatal sekujur kulitnya, besoknya pusing dan keesokan harinya lagi demam panas. Lebih aneh lagi bila rasa sakit itu selalu datang setiap menjelang maghrib.

   Keanehan inilah yang mengantarkan kami sekeluarga untuk membawanya berobat ke seorang paranormal di Jakarta Barat. Di tempat tersebut, ibu disuruh membeli air dan telur dua butir kemudian diusapkan ke seluruh tubuh ibu setelah dibacakan mantra.

    ''Penyakitnya akan menempel di telur tersebut,'' ujar sang paranormal meyakinkan. Setelah digosok beberapa kali, telurnya tidak mau dicabut dari kulit ibu. Aneh memang. Telur itu seakan ingin menyatu dengan kulit ibu.

     Entahlah kekuatan apa yang menahannya, hingga dibutuhkan enam orang untuk menarik telur dari kulit ibu. Dan setelah dibuka telur tersebut isinya menjadi abu gosok. Tidak ada lagi putih dan kuning telur. Sungguh seperti permainan sulap saja.

    Sepulang dari jakarta barat tetap tidak ada perubahan. Rasa gatal masih menggerayangi tubuh ibu. Ibu terus menggaruknya hingga lecet-lecet. Meski rasa gatal tidak tertahankan lagi, ibu tetap tidak mau mengeluh kepada anak-anaknya.

    Rasa sakit itu ditahannya dengan cara menggigit bantal. Ibu menangis. Tapi tangisan yang tidak terdengar dari luar kamar. Sebuah penderitaan panjang yang terus berlangsung hingga ajal menjemput beliau tahun 2001.

 Saya Benci Suami 

     Dalam waktu yang bersamaan, saya menjadi korban keganasan rumah pemujaan kera. Ibu tidak menderita sendirian, sayapun akhirnya ikut merasakan kesengsaraan dalam rumah itu. Saya yang melangsungkan pernikahan tahun 1998 belum merasakan indahnya hidup berumah tangga.

    Kamar pengantin terasa panas. Ia seakan memercikkan bara api. Tidak ada lagi kemesraan dalam kamar. Yang tersisa hanyalah kekesalan demi kekesalan. Indahnya pengantin cuma isapan jempol belaka dan hanya hadir dalam mimpi.

    Saya tidak tahu, mengapa saya tidak merasakan sesuatu yang istimewa setelah menikah. Semuanya masih sama seperti dulu sebelum menikah. Sebuah perkawinan yang hambar. Suami saya pulang atau tidak, bukan masalah.

    Tidak ada rindu ataupun persiapan menyambut datangnya suami setelah berpisah beberapa hari. Bahkan sebaliknya. Hati saya menjadi kesal dan bawaannya marah saja bila berduaan di dalam kamar. Namun perasaan itu hilang bila berada diluar kamar dan diluar rumah.

     Kemarahan dan benci kembali hadir bila suami mencoba merayu dan mendekati saya. Sejak menikah saya mengalami sakit-sakitan. Bahkan saya hampir mengalami kebutaan saat hamil, padahal saya sudah berusaha untuk berobat secara rutin kepada dokter.

     Pada tahun 1999 lahirlah anak saya, seorang bayi perempuan melalui proses yang mendebarkan. Datangnya si buah hati tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa marah yang ada. Sebuah kemarahan yang tidak wajar memang.

     Ibu manakah yang tega menyakiti anak sendiri? Tapi tidak demikian halnya dengan saya waktu itu. Anak yang masih kecil itu setiap hari mendapatkan kemarahan. Entahlah kenapa setiap hari saya selalu menyiksa perasaan anak saya.

    Hanya karena ingin pipis atau merengek minta susu, saya langsung kesal. Pernah suatu ketika saya sampai mengguyur lalu mengurungnya di kamar mandi. Selain itu, saya juga menderita sakit kepala yang datang tiba-tiba.

    Seakan ditusuk ribuan jarum dan paku, hingga saya bergulingan di lantai. Sakit kepala yang aneh. Setiap kali ibu bermimpi dkserang ular di siang hari, keesokan harinya saya langsung koyang-kayingan, mata menjadi gelap dan kepala seakan berputar-putar.

   Mimpi ular menjadi isyarat datangnya derita. Entahlah sampai sekarang saya tidak tahu apa hubungan antara mimpi ular dan sakit kepala. Untuk menyembuhkannya saya datang ke beberapa paranormal. Waktu itu saya memang tidak tahu bahwa pengobatan seperti yang saya lakukan itu bertentangan dengan agama.

    Dalam benak saya hanyalah kesembuhan dan hilangnya derita. Saya juga sempat diobati oleh seorang paranormal asal Pontianak yang kebetulan berkunjung ke Sukabumi. "Kalau ingin selamat, istri dan anakmu harus pindah dari rumah ini," kata paranormal tersebut kepada suami saya.

   Selain itu ia juga ia memberi saya korek api yang harus diletakkan di ketiak, "Bu, korek apa ini jangan sampai lepas. Kalau nanti malam ibu bermimpi maka orang yang muncul dalam mimpi itulah yang mengerjai ibu.''

    Memang malam harinya saya bermimpi. Tapi saya sadar bahwa saya tidak boleh menuduh orang sembarangan hanya berdasarkan mimpi. Maka ketika paranormal tersebut bertanya, "Mimpi nggak ?" "Nggak, saya nggak mimpi," jawab saya.

    "Ya sudah, besok ibu beli bengkoang lima biji dan tidak boleh di kilo," katanya. Bengkoang tersebut dihaluskan dan dijadikan sebagai bedak. Pengobatan ke paranormal ini tidak menyelesaikan masalah sehingga saya dibawa ke beberapa paranormal lainnya.

 Anak Saya Makan Krayon, Plastik, Tissue dan Ikan Mentah 

    Dalam kondisi jiwa yang tidak stabil tersebut, saya terus merawat anak semata wayang saya. Yang selanjutnya juga mengalami keanehan-keanehan. Awal keanehan terjadi pada saat anak saya, (sebut saja Novi) berumur dua tahun.

     Pada suatu waktu di malam Jum'at tahun 2000, Novi mengalami kejang, giginya gemeretak. Saya khawatir Novi menderita step, untuk itu Novi segera dilarikan ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit ia segera dirawat seorang dokter, "Nggak panas bu. Ini bukan step. Sudah, bawa pulang lagi saja," kata dokter sedikit bingung.

    Setelah peristiwa di malam Jum'at itu, bisa dipastikan setiap tiga bulan sekali Novi kembali mengalami kejang-kejang. Itulah awal datangnya keanehan yang beruntun. Setiap mendengar adzan, tangan Novi segera mencari sasaran.

    Ia menabok dan mencakar apa saja yang ada di depannya. Keberingasannya mengingatkan saya kepada seekor kera yang sedang belajar mencakar. Selain itu, Novi mulai keranjingan makan. Memakan apa saja. Bahkan dia pernah makan belut mentah saat berumur dua tahun.

    Waktu itu tetangga depan rumah sedang panen ikan dan meletakkannya di baskom. Novi yang nampak duduk dengan tenang di samping baskom ikan ternyata mengunyah daging ikan belut mentah-mentah setelah menghancurkan kepala belut dengan cakaran tangan-tangannya hingga putus.

    Semakin lama kebiasaan Novi semakin mengkhawatirkan. Ia tidak lagi mau minum susu. Minuman kesukaannya hanyalah teh botol dan dalam jumlah yang cukup banyak. Bayangkan, anak berumur tiga tahunan mampu menghabiskan satu krat teh botol hanya dalam waktu empat hari!

    Hari-hari berikutnya keranjingan makan Novi tidak tertahankan. Apapun yang teraih tangannya seperti plastik, tissue ataupun kertas pasti segera dikunyah. Krayon untuk melukis pun dikunyahnya hingga hancur. Untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut saya dan keluarga terus berusaha, walaupun ternyata cara itu salah. Pergi ke paranormal misalnya.

    Waktu itu saya masih belum tahu bahwa langkah yang saya tempuh itu salah. Yang ada dalam benak saya adalah bagaimana saya bisa sembuh dari berbagai masalah yang ada. Saya pernah berobat ke paranormal di Cicurug selama berkali-kali hingga sang paranormal tertarik dan akan mengawini saya.

    "Istri kamu adalah istri yang nggak benar. Istri yang tidak bisa ngurus suami. Kalau suami kerja, dia ngeluyur. Kalau kamu masih sama dengannya, maka kamu tidak akan bahagia seumur hidup. Ceraikan nanti saya yang mengurusnya," kata paranormal itu kepada suami saya.

    Terang saja permintaan gila itu tidak kami terima. Dan sayapun dibawa suami ke paranormal lain di Sukabumi yang juga masih teman suami saya. Peristiwanya terjadi ketika sedang camping di Sukabumi. Waktu itu si paranormal ikut serta bersama rombongan.

   Dan ketika ia mencoba mengobati anak saya, Novi, ternyata jin kera yang merasuk ke dalam diri Novi masih belum bisa bicara. Untuk itu perlu diadakan ritual pemanggilan raja jin kera agar bisa diajak dialog. Pemanggilan raja jin dilakukan pada malam minggu didalam sebuhh gubuk yang terletak di areal perkemahan.

    Saat itu tidak sembarang orang dibolehkan mengikuti ritual pemanggilan jin. Hanya ada empat orang yang ikut serta masuk ke dalam gubuk, saya dan tiga orang paranormal. Sementara itu suami saya dan Novi hanya bisa menunggu hasil pemanggilan jin raja kera dengan harap-harap cemas.

     Angin bertiup kencang disertai dengan suara ribut menandai datangnya raja jin kera yang kemudian dimasukkan ke dalam salah satu tubuh paranormal. Suara paranormal yanag menjadi media jin pun berubah, "Kamu jangan mengganggu anak buah saya. Kamu jangan turut campur urusan saya. Karena saya masih punya urusan dengan ibu Kokom. Dia meninggal sebelum perjanjiannya dengan saya selesai," ujar Raja Jin melalui mulut seorang paranormal.

     Dialog antara paranormal dengan jin yang mengaku sebagai raja kera putih berlangsung cukup lama, tapi tetap saja belum ada yang kalah. Akhirnya disepakati untuk diadakan pertarungan secara ghaib pada malam Jum'at.

    Untuk menentukan siapa yang terkuat. Dengan perjanjian bahwa bila raja jin kera kalah dalam pertarungan tersebut, maka dia akan keluar dari tubuh Novi dan tidak lagi mengganggu orang yang menempati rumah saya.

    Malam Jum'at yang disepakatipun tiba dan terjadilah pertarungan yang telah disepakati sebelumnya. Setelah pertarungan ghaib itu, badan sang paranormal terlihat biru lebam. Hal itu saya ketahui melalui cerita suami yang datang ke rumah paranormal sehari setelah pertarungan.

     "Sekarang kamu cepat-cepat pulang. Nanti pagi tanya sama anak kamu di rumah masih ada nggak si kera tersebut," kata paranormal ke suami saya.. Setelah mendengar cerita suami saya, saya tidak sabar menunggu datangnya pagi, karena saya ingin segera terbebas dari gangguan jin yang telah merongrong keluarga saya.

     "Neng, kumaha neng. Monyetnya masih ada nggak?" tanya suami saya ke Novi tak lama setelah ia bangun tidur. "Sekarang ada diluar sama bapaknya. Mereka mau pergi ke gunung," kata Novi setelah celingukan mencari jin kera.

    Terus terang Novi memang memiliki kemampuan melihat jin kera yang ada di dalam rumah sementara saya dan suami tidak bisa melihatnya.

 Awal Datangnya Hidayah 

    Karena suatu alasan akhirnya, saya sekeluarga pindah ke Bogor. Di Bogor inilah saya mengikuti kajian keislaman setiap hari minggu. Setelah beberapa kali diadakan pengajian, mulailah diadakan ruqyah yang ditangani oleh Ustadz Febri.

    Saya hadir bersama suami dan anak saya. Pada saat peserta ruqyah sedang mendengarkan ayat-ayat al Qur'an, tiba-tiba Novi yang tadinya bermain diluar ruangan berlari-lari. Ia meloncat - loncat dan langsung menggaruk-garuk kaca jendela.

    Tingkah laku Novi tak ubahnya seperti seekor kera. Dari mulut mungilnya terdengar teriakan, "Monyetnya berdarah. Monyetnya keluar.'' Selanjutnya Novi ditangkap ayahnya dan diruqyah oleh Ustadz Febri.

    Ia hanya meronta-ronta dan tidak mau berbicara. Novi hanya bisa menangis. Seminggu kemudian, saya mengikuti ruqyah untuk kedua kalinya. Ruqyah kali ini, Novi sempat meloncat - loncat seperti seekor kera. Sebelum akhirnya dia menjadi tenang.

    Tak lama setelah Novi mulai tenang saya mendapat giliran untuk ruqyah. Benar saja raja kera putih datang. Hal itu diketahui oleh Mutia, seorang pasien, yang mengaku bisa melihat jin, "Yang kecil sudah nggak ada. Tuh rajanya yang besar datang.''

    Katanya mereka marah karena anak buahnya diusir. "Saya tidak mau keluar karena perjanjiannya belum selesai," kata jin yang membandel dan tidak mau keluar. Saat ditanya apa perjanjian yang ada diantara mereka, jin yang merasuk dalam diri saya hanya diam saja.

    Ia tidak mau menjawab. Ruqyah yang kedua itu berakhir dengan tetap menyisakan jin kera yang masih belum mau keluar. Saya bersyukur akhirnya gerakan-gerakan kera hilang setelah saya mengikuti ruqyah yang keenam kalinya.

    Setelah mengikuti terapi ruqyah itulah saya sadar bahwa apa yang menimpa keluarga dan orang-orang yang membeli rumah ibu Kokom tidak lepas dari pengaruh jin kera putih. Tetangga yang tinggal di sebelah kiri saya adalah seorang guru yang telah berselingkuh tiga kali.

   Sedangkan anak salah seorang tetangga yang tinggal di sebelah kanan saya pernah mengalami gangguan kejiwaan. Meski sekarang ia telah sembuh, tapi bara dalam rumah tangganya tidak kalah panasnya dengan keluarga saya.

   Inilah sepenggal kisah nyata yang saya alami bersama orang tua dan anak semata wayang kami. Kami sekeluarga menjadi korban keganasan jin PENGLARIS yang membantu budak-budaknya untuk mengumpulkan harta dengan cara haram.
 
   Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa rumah kita harus selalu dijadikan sebagai tempat sholat maupun ibadah lainnya. Bukannya dijadikan sebagai tempat pemujaan jin. Apapun alasannya. Bantuan jin tidak ada yang gratis. Ia akan meminta imbalan atas apa yang diberikannya. Dan imbalannya yang paling besar adalah tergadainya AKIDAH kita. Sekian.

Majalah Ghoib Edisi 21 Th 2/8 Jumadits Tsani 1425 H/26 Juli 2004 M Hal 4-9 (Majalah Ghoib Dalam Kenangan)

Ruqyah Perut dan Kaki Membengkak Part 1 (Awas Penampakan dari Balik Tirai)

Written By Rumah Ruqyah on 2014-11-18 | 11:35 PM




Seorang ibu mengaku perut dan kakinya sakit, dan minta diruqyah ke Rumah Ruqyah Indonesia. Alhamdulillah ditangani langsunng oleh Ustadz Akhmad Sadzali Lc (Wakil Direktur RRI)

Rumah Ruqyah Indonesia

*****

Contact Us:

- Official Marketing Rumah Ruqyah Indonesia : 085881306984, pin: 2901EE02
- Ruqyah Online: 082310823344, pin: 2950FE59
- Grup WA: 081282171204
- Office: 021 - 8092329, 021 - 70035459

Akibat Menonton Reality Show Misteri

Akibat Menonton Reality Show Misteri


  Sebutlah Anggie (Bukan nama sebenarnya, Admin). Baru saja selesai diruqyah oleh Ustadz Achmad Junaedi Lc (Team Ruqyah Program VVIP). Anggie datang tidak sendiri, dia antar keluarga besarnya.

  Saat diruqyah tidak reaksi yang biasa terjadi pada pasien yang terindikasi gangguan jin. Kemanakah si Eneng? Wallahu'alam Perlu diketahui Eneng yang mengaku bernama lengkap Eneng Indah Purnamasari ini, adalah jin yang mengaku pada saat Anggie kesurupan.

  Eneng yang jika muncul suka muncul perilaku tidak tahu malunya. Suka joget tidak karuan, suka memukul dan perilaku negatifnya lainnya. Dan kemunculannya suka tidak terduga, tapi mudah dikenali.

  "Saya biasa dipanggil ibu oleh putri saya pak Ustadz, tapi kalo malam hari tiba-tiba saja dia memanggil saya mamah dan perilakunya aneh-aneh dan mengaku dirinya Eneng dengan suara cadel. Saya jadi merinding sendiri pak Ustadz." Demikian pengakuan sang ibu kepada Ustadz Achmad Junaedi

  'Makanya, saya bela-belain dech datang dari Kuningan, Jawa Barat. Meski di bus juga si Eneng suka datang. Ngeri' kata ibunya lagi.

   Selidik punya selidik si Anggie ini suka banget nonton acara uji nyali-uji nyali di acara-acara misteri di tv. Nah, pada suatu episode, ternyata si Anggie beneran bisa melihat penampakan persis yang dikatakan orang yang mengaku indigo atau 'Ustadz' yang ada di acara-acara semacam itu yang mengatakan ada makhluk di sudut sana, yang bentuk menyeramkan dsb.

   Peringatan buat kita semua untuk tidak menonton acara-acara seperti itu, yang memunculkan rasa takut, dari takut karena menonton acara tersebut, keadaan yang seperti itu di tv, dan ketakutan-ketakutan selanjutnya yang kian dihembuskan syaithon.

   Lindungi keluarga kita dari ganggua syaithon dari kalangan jin dengan tidak membiarkan mereka menakuti kita dengan acara-acara itu, pertebal ibadah dan tingkatkan kualitasnya, dan kita memohon perlindungan kepada Allah atas gangguan makhluk-makhlukNya.


Rumah Ruqyah Indonesia

#SejutaBukuSakuRuqyah

7. Apa Bedanya Ruqyah Syar'iyyah dengan Ruqyah Syirkiyyah?

Written By Rumah Ruqyah on 2014-11-17 | 12:04 AM

7. Apa Bedanya Ruqyah Syar'iyyah dengan Ruqyah Syirkiyyah?


Jawab:

Kalau Ruqyah Syar'iyyah memohon pertolongan kepada Allah dengan cara dan bacaan-bacaan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Sedangkan Ruqyah Syirkiyyah memohon bantuan kepada selain Allah, atau memohon kepada Allah sekaligus memohon juga kepada yang lain, bacaannya pun tidak pernah diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya, walaupun kadang-kadang caranya mirip dengan ruqyah syar'iyyah atau mengkombinasikan antara ruqyah yang syar'iyyah dengan yang syirkiyyah, dengan begitu pelakunya telah mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, dan perbuatan seperti itu sangat disukai oleh syetan. Naudzubillahi Min Dzalik

Kumpulan Tanya Jawab Ruqyah
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rumah Ruqyah Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger