Rumah Ruqyah

thumbnail

Bubuk Daun Sidr/Bidara Ruqyah - Terapi Ruqyah | Rumah Ruqyah Indonesia

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-22


Manfaat :

Sangat efektif dalam membantu penyembuhan sakit akibat gangguan Jin atau Sihir, bahkan pernah ada Jin yang mengaku bahwa Bidara itu merupakan RACUN bagi mereka. Disamping itu juga memiliki khasiat dapat menyembuhkan beberapa penyakit medis antara lain : Kencing manis, diare, dan Malaria.

Cara Pemakaian :

1. Sendok Makan Bubuk Bidara di campur dengan air satu gelas untuk diminum 2x Pagi dan Sore.

2. Sebelum diminum sebaiknya bacakan Surah Al Kaafirun, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas

3. 3 Sendok makan bubuk Bidara atau lebih di campur dengan air yang akan dipakai untuk mandi.

November 22, 2019
thumbnail

Ingin Kuat Seperti Harimau

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-21


Aku Ingin Taubat

Bismillaah..

Senja menjelang Maghrib, datang seorang laki-laki berbadan besar dan kekar kepada kami. Setelah kami persilahkan masuk, laki-laki itu pun mengutarakan tujuannya.

"Begini ustadz, akhir-akhir ini saya sering sakit-sakitan terutama di kepala. Sudah berobat kemana saja kok ga sembuh-sembuh. Saya mau minta tolong, barangkali Ustadz bisa membantu." kata laki-laki itu.

"Maaf sebelumnya, apakah anda sering mimpi buruk? Atau barangkali anda punya "jimat" yang anda simpan? " tanya kami.


"Betul sekai Ustadz, kalau tidur saya sering mimpi buruk, saya juga punya jimat berupa KERIS KECIL seukuran panjang jari kelingking yang ada tulisan arabnya Ustadz." laki-laki membenarkan.


"Untuk apa keris itu?" tanya kami


"Ustadz, waktu muda dulu saya senang belajar 'ilmu-ilmu' ya..buat jaga-jaga lah Ustadz..dulu setelah saya 'belajar' saya pernah di tes Ustadz, saya kebal senjata." cerita laki-laki itu.


"Baik, apa yang anda rasakan saat ini terutama sering sakit kepala, bisa jadi karena itu. Lagi pula dengan kita memiliki jimat itu, kita sudah berbuat syirik. Kenapa? Karena kita sudah bergantung pada selain Allah. Kita sudah percaya bahwa jimat itu memiliki 'kekuatan', sungguh itu dosa besar."


"Oh..begitu ya Ustadz, kalau demikian saya INGIN TAUBAT ustadz. Apa yang harus saya lakukan?"
tanya laki-laki itu.


"Datanglah besok kemari lagi, jangan lupa bawa jimatnya kesini dan bawa juga beberapa teman untuk memegangi saat ruqyah nanti." pinta kami.



Kesokan harinya laki-laki itu pun datang beserta empat orang temannya. Diserahkannya jimat yang ia miliki. Tak lupa sebelum Ruqyah dimulai terlebih dulu kami ruqyah jimat yang dibawanya dengan maksud untuk "menetralkan" kalau-kalau jimat tersebut masih ada "isinya".

"Bismillaah, saya peringatkan kepada jin yang ada di tubuh ini, atas permintaan dari yang bersangkutan keluar kalian dari tubuh ini. Orang ini ingin taubat dengan sesungguhnya. Keluar kalian karena taat kepada Allah.

Spontan, laki-laki itu langsung kesurupan. Ia mengaum seprti HARIMAU. Dengan sigap temannyapun segera memeganginya.

Kami: "Siapa ini?"


Jin: "Saya jin"


Kami: "Jenis apa kamu?"


Jin: "Saya harimau, yang dimintanya supaya ia menjadi kuat."


Kami: "Keluar kamu dari tubuh ini!"


Jin: "Saya tidak mau"



Kami pun membacakan ruqyah kepada laki-laki tersebut, jin semakin kuat dia MENGAUM terus menerus seolah-olah melakukan perlawanan. Kami bergelut dengannya. Dalam kondisi berkeringat kami perintahkan lagi jinnya untuk keluar.

"Ukhruj yaa 'aduwwalloo..!" sambil kami pijat bagian tubuhnya.

"Yaa..saya keluar.." jawab jinya.


Laki-laki itu pun muntah-muntah dan tersadar.


"Apa anda melihat sesuatu keluar?" tanya kami.


"Ya..saya melihat seekor harimau" jawab laki-laki itu.


Alhamdulillaah. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Laki-laki itu pun merasakan enteng di tubuhnya.



Cilacap Ruqyah Centre


RRIAds - Sabun Bidara Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


November 21, 2019
thumbnail

Bersih dari Dosa

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-20



"Si sakit yang sabar lagi mengharapkan pahala, sekiranya Allah sembuhkan dari sakitnya, ia menjadi bersih dari dosa. Artinya, Rabbnya sucikan ia dari dosa-dosa.

Sekiranya ia meninggal karena faktor penyakitnya itu, Allah ampuni dia. Siapa yang Allah ampuni, Allah menganugerahkan ia ridha sekaligus Jannah-Nya." (Syaikh Zaid al-Madkhaliy)


Yani Fahriansyah


RRIAds - Madu Ruqyah Pahit (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


November 20, 2019
thumbnail

Shampo Bidara | Rumah Ruqyah Indonesia

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-17


Manfaat Shampoo Bidara :

Membersihkan Kulit, Rambut Dari Kuman dan Bakteri
Menjaga Kelembaban Kulit
Mengatasi Ketombe
Menghilangkan Gatal Gatal
Membuat Kesegaran Kulit dan Rambut
Mengatasi Penyakit non medis

Komposisi :
Bidara
Kemiri
Pepermint
Nacl
Ultra Sles
Pearl
Cosentrat
Air Lexguard
Poliquat
Lexain C

Netto 250ml

Cara Pengguanaan Herbal :

Alhamdulillah Semua Herbal Disini telah di ruqyah oleh tim herbaruqyah dengan ayat-ayat syifa dan ruqyah dari Al Qur’an yang akan menambah khasiat untuk menenangkan jiwa dan meluluhlantakan berbagai belenggu sihir bagi yang mengkonsumsinya dengan keimanan dan kesungguhan ikhtiar dalam jalur sunnah.

Adab Menggunakan Herbal Ini :

Sebelum Menggunakan Herbal ini, di sarankan ketika barangnya sampai di ruqyah kembali

Secara singkat caranya : Sambil Duduk, Membaca Ta’awudz, Basmallah Serta Do’a-Do’a Syifa Atau Membaca Ayat-Ayat Ruqyah (Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, Annas , al-Hasyr& Al-Kafirun). niatka membacanya untuk meruqyah herbal Lalu Tiupkan Pada herbal ruqyah ini Dan Do’akan Untuk Kesembuhan Penyakit Anda


Lakukan Ruqyah Mandiri Selama Proses Pengobatan Dan Perbaikan Ibadah Sesuai Tuntunan Rosulullah.

Harga : Rp. 35.000

November 17, 2019
thumbnail

Batu-batu Neraka

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-16


Batu-batu Neraka

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.
Dalam Qur’an surat at Tahrim ayat 6 diterangkan, bahwa bahan bakar neraka ada dua macamnya yaitu manusia dan batu. Allahu Subhanahu wa ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)
Dalam surat yang lain, Allah ta’ala berfirman,
فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ
Takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 24)
Melalui dua ayat di atas, kita dapat mengetahui bahwa batu merupakan salah satu bahan bakar neraka. Dan kita wajib meyakini hal ini, karena masalah ini adalah bagian dari rukun iman, yaitu iman kepada hari akhir.
Kemudian muncul pertanyaan, batu yang bagaimana?
Ada dua macam batu neraka:
Pertama, batu berhala yang disembah oleh orang-orang kafir.
Sebagaimana diterangkan dalam Al Qur’an,
إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ
Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya. (QS. Al-Anbiya’ : 98)
Dimasukkannya berhala ke dalam neraka, bukan untuk mengadzab batu-batu berhala tersebut. Namun, untuk semakin membuat sedih dan menyesal setiap orang yang menyembahnya. Ternyata Tuhan yang mereka sembah dahulu di dunia, menggantungkan harap dan tawakkal kepadanya, akan masuk ke neraka bersama penyembahnya. Tak bisa menolong. Hanya akan menjadi bahan bakar neraka yang semakin menambah panas api yang membakar mereka.
Imam Al Qurtubi rahimahullah menerangkan,
وأن النار لا تكون على الأصنام عذابا ولا عقوبة ؛ لأنها لم تذنب ،ولكن تكون عذابا على من عبدها : أول شيء بالحسرة
Api neraka bagi berhala-berhala itu tidak sebagai azab atau hukuman. Karena berhala tidak berbuat dosa (benda mati, red). Namun menjadi azab bagi para menyembahnya. Azab pertama yang mereka rasakan saat melihat berhala itu berada di neraka adalah, penyesalan. (Tafsir Al Qurtubi).
Kedua, batu belerang atau dalam bahasa Arab disebut kibriit كبريت.
Namun untuk jenis batu yang kedua ini, belum finish. Para ulama berbeda pendapat tentangnya.
Mayoritas ulama tafsir memegang pendapat ini, bahwa yang dimaksud batu bahan bakar neraka adalah batu kibriit/belerang. Sebagaimana dinyatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu,
هي حجارة من كبريت، خلقها الله يوم خلق السماوات والأرض في السماء الدنيا يعدها للكافرين
Batu yang menjadi bahan bakar neraka adalah batu belerang. Allah menciptakannya di langit dunia saat hari penciptaan langit dan bumi. Allah siapkan untuk mengazab orang – orang kafir.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Al Hakim dalam Al Mustadrok)
Ulama yang lain berpandangan, bahwa maknanya tidak mesti batu belerang. Para ulama klasik menafsirkannya dengan batu belerang, karena itulah jenis batu paling panas yang mereka ketahui. Padahal, masih ada batu lain yang lebih panas dan lebih kuat dalam memberikan dampak azab, daripada batu belerang.
Lantas batu apakah itu?
Dalam buku Al Jannatu Wan Nar (Surga dan Neraka), Prof. Dr. Umar Sulaiman Al Asqor menjelaskan, yaitu batu yang memiliki lima karakteristik berikut :
[1] Cepat menyala, (سرعة الإيقاد)
[2] Mengeluarkan bau yang tidak sedap, (نتن الرائحة)
[3] Mengeluarkan banyak asap, (كثرة الدخان)
[4] Mudah menempel kuat ditubuh manusia, (شدة الالتصاق بالأبدان)
[5] Memiliki kekuatan panas yang dahsyat. (قوة حرها)
(Al Jannatu Wan Nar, hal. 31, menukil dari ket. Imam Ibnu Rojab Al Hambali, dalam At Takhwif Minan Naar, hal. 107)
Kesimpulan terakhir ini lebih tepat insyaallah.
Karena kalaupun ditafsirkan batu belerang, penafsiran tersebut fungsinya sebagai pendekatan untuk memahami. Tidak untuk menjelaskan hakikat batu neraka. Ibnu Abbas radhiyallahuma pernah mengatakan,
ليس في الدنيا مما في الآخرة إلا الأسماء.
Tidaklah benda-benda yang ada di dunia ini, tersebut sama dengan benda-benda di akhirat, melainkan sama dalam penamaan saja. (Majmu’Fatawa Ibnu Taimiyah, 5/159)
Sehingga, menafsirkannya global, dengan menjelaskan kriteria-kriteria seperti di atas, lebih tepat insyaallah. Karena adanya kemungkinan batu lain yang lebih panas dan lebih menyiksa dari belerang, mungkin batu bara atau yang lainnya. Sehingga lebih dekat dalam memahamkan batu neraka yang tersebut dalam ayat di atas.
Syeikh Umar Sulaiman Al Asqor memberikan keterangan dalam Al Jannatu Wan Nar (hal. 31),
وقد يوجد الله من أنواع الحجارة ما يفوق ما في الكبريت من خصائص، ونحن نجزم أن ما في الآخرة مغاير لما في الدنيا
Bisa jadi ada jenis batu lain yang Allah ciptakan, yang kriteria azabnya melebihi batu belerang. Dan kita meyakini bahwa, alam akhirat berbeda dengan alam dunia.
Wallahua’lam bis showab.
***
Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta

RRIAds - Sabun Bidara Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


November 16, 2019
thumbnail

Shohihkah Hadits Sunnah Berbekam?

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-14

Tanggal Dianjurkan Berbekam
Assalamualaikum ustadz.. Bagaimana dengan hadist berbakam pada tangal 17,19,21. Hadist ini shohih tidak tadz.?

Mohon penjelasannya tadz... (08778474xxxx)

Wa'alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Bismillah wal Hamdulillah ..

Ya, hadits tentang itu memang ada. Di antaranya, tertuang dalam _Sunan Abi Daud,_ pada _Bab Mataa Tustahabbul Hijaamah_ – _Kapan Disunnahkannya Berbekam?,_ yaitu sebagai berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ احْتَجَمَ لِسَبْعَ عَشْرَةَ وَتِسْعَ عَشْرَةَ وَإِحْدَى وَعِشْرِينَ كَانَ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ ».

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallahu Alaihi Bersabda ::

"Barang siapa yang berbekam pada tanggal 17, 19, dan 21 maka itu menjadi obat bagi semua penyakit".

(HR. Abu Daud No. 3863, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20018, Ma’rifatus Sunan wal Aatsar No. 19339. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7475)

Status hadits:

- Imam Al Hakim berkata: shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak ‘ala Ash Shahihain No. 7475)

- Imam As Suyuthi berkata: shahih. (Al Jaami’ Ash Shaghiir No. 8326)

- Imam Al Munawi berkata: shahih. (At Taysir Bi Syarhi Al Jami’ Ash Shaghir, 2/752)

- Syaikh Al Albani berkata: hasan. (As Silsilah Ash Shahihah No. 622, Shahihul Jaami’ No. 5968)

Demikian. Wallahu a'lam

Ustadz Ustadz Farid Nu'man Hasan


RRIAds - Shampo Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


November 14, 2019
thumbnail

Bedah Kesaksian 'Ditanam Rajah'

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-12


Bedah Kesaksian 'Ditanam Rajah'

  Apa yang dialami Ibu Diah di Salatiga, Jawa Tengah tersebut adalah nyata. Peristiwa itu masuk dalam kategori Sihir. Artinya, Ibu Diah terkena gangguan sihir. Hal itu bisa dilihat dari adanya rajah yang ditanam di halaman rumahnya serta reaksi-reaksi yang ia alami.

  Menurut para Ulama, Sihir model seperti itu disebut dengan Sihir Tankis. Artinya Sihir yang menggunakan sarana rajah yang ditulis huruf arab, atau Al Qur’an secara terbalik.

  Peristiwa yang dialami Ibu Diah juga menjelaskan soal lain, bahwa Sihir itu benar adanya. Artinya Sihir ada hakekatnya. 

  Ahli Tafsir terkenal, Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa para ahli Sunnah berpendapat, Sihir telah disebutkan keberadaannya oleh nash (dalil) dan memiliki hakekat.

  Sihir bisa menimbulkan rasa sakit. Begitulah para Ulama Shalih dahulu menjelaskan. Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi misalnya mengatakan : “Sihir ialah buhul, mantera, dan perkataan yang diucapkan atau ditulis atau dibuat sesuatu, yang berpengaruh pada jasad orang yang disihir atau pada hati dan akalnya tanpa menyentuhnya secara langsung. Sihir adalah sesuatu yang memang terjadi. Di antaranya ada yang sampai menimbulkan kematian, sakit… (Al Mughni, 10/04)

  Dalam kasus Ibu Diah, salah satu efek sakit dari sihir adalah munculnya benjolan di leher yang sangat sakit tersebut, atau juga munculnya ulat-ulat di rumahnya.

  Tetapi ada satu hal penting yang harus dipahami oleh setiap Mukmin, bahwa Sihir tersebut TIDAK AKAN BERHASIL KECUALI DENGAN IZIN Allah. Maksudnya, Sihir bisa mencederai, melukai, dan bisa membuat orang yang disihir mengalami sakit, secara Aqidah, kita harus meyakini bahwa ia tidak bisa terjadi kecuali atas izin Allah.

  Lihatlah dengan jelas Firman Allah, “Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah.” (Qs. Al Baqarah : 102). Maka, bisa jadi Allah SEDANG MENGUJI IBU DIAH AGAR DERAJAT KEIMANANNYA BERTAMBAH.

  Selain itu, Sihir tersebut juga menunjukkan adanya Jin yang merasuk ke dalam diri Ibu Diah. Itu bisa dilihat dari adanya dorongan untuk memukul orang Sholeh, menjadi tentram bila melihat salib, atau melihat jurang. Bukti lain adanya reaksi fisik diluar kehendak Ibu Diah, ketika dibacakan ruqyah, atau omongan-omongan dusta dari jin tersebut. Termasuk dalam hal ini juga adalah perasaan ibu Diah seakan-akan ada pasukan kuda.

  Namun, sihir tersebut pada akhirnya bisa digagalkan DENGAN IZIN Allah melalui sarana ikhtiar Ruqyah. Di samping itu adanya benteng diri dari Ibu Diah seperti menutup aurat, membaca wirid pagi dan petang, telah memberi kekuatan pada diri Ibu Diah untuk bertahan. Hal itu bisa dilihat, misalnya bagaimana ia masih bisa berjuang keras mengendalikan dirinya ketika ada dorongan untuk memukul, atau terjun ke jurang.

Tim Redaksi Majalah Ghoib

Kisah Ibu Diah bisa dibaca DISINI

RRIAds - Sabun Bidara Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


November 12, 2019
thumbnail

Jelang Tes CPNS, Pedagang Jimat Laku Keras

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-10


Jelang Tes CPNS, Pedagang Jimat di Pasar Jatinegara Kebanjiran Order

  Jelang pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada 11 November 2019, masyarakat semakin antusias mempersiapkan kebutuhan tes. Bahkan ada juga calon peserta tes CPNS yang bukan hanya melakukan persiapan dengan membeli buku untuk dipelajari, melainkan jimat-jimat juga laris manis

  Menurut salah satu pedagang jimat di Pasar Rawa Bening (Jakarta Gems Center/JGC), David, masyarakat Indonesia masih sangat erat dengan mistis. Sehingga, menjelang tes CPNS dan pemilu, JGC ramai dikunjungi.

  "Banyak yang cari jimat ke sini. Ya kita hanya menyediakan saja. Biasanya itu mereka (pembeli) sudah tahu kebutuhan jimat untuk tes apa saja," katanya kepada kumparan saat ditemui di lapaknya, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (8/11).

  Berbagai macam jimat tertata di mejanya. Sebagian besar jimat-jimat tersebut berasal dari Jawa Timur. Meski beberapa daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan daerah lain juga ada. Menurut David, secara umum jimat-jimat ini tidak bisa semata-mata menjamin akan diterima tes CPNS. Sebab, kata dia, jimat hanya sebagai media supaya lebih percaya diri. 

  Jimat-jimat di JGC dijual dari harga Rp 5 ribu hingga Rp 700 ribu. Setiap pedagang memiliki karakteristik jimat masing-masing.

  Pedagang lainnya yang enggan disebutkan namanya, mengatakan ada beberapa jimat yang bisa dibeli untuk menjalani tes CPNS, yaitu jimat isim. Jimat isim miliknya terbuat dari kulit sapi yang sudah dijahit hingga berbentuk kotak.

"Ini saya jual Rp 30 ribu per biji. Di dalamnya ada (batu) bacaannya. Kalau di lainnya beda-beda," jelasnya. Dia menegaskan agar peserta tidak serta-merta percaya jimat. Sebab, jimat ini hanya sebagai media saja, bukan sebuah kekuatan yang bisa memastikan lolos tes CPNS.

"Kekuatan yang tetap Allah SWT, kalau percaya ini (jimat) ya keluar dari jalur," jelasnya.

Sumber : Kumparan


RRIAds - Air Ruqyah JUmbo (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 
November 10, 2019
thumbnail

Laksana Debu Bertaburan

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-06


Sholat Malam Istri Harun Al Rasyid

  Keikhlasan dalam beribadah itu penting. Ia bahkan menjadi syarat utama diterima atau tidaknya sebuah pengabdian. Temuilah Allah di tengah malam dan lakukanlah Sholat Sunnah Tahajjud dua roka’at minimal. Selain untuk melatih keikhlasan, hal itu juga akan menjadi tabungan amal yang sangat bernilai di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT). Lihatlah sebuah kisah tentang manfaat Shalat Malam berikut ini.

  Zubaidah, istri Khalifah Harun Al Rasyid pergi menunaikan ibadah Haji. Ketika itu rombongan kafilahnya adalah rombongan yang paling terakhir berangkat dari Baghdad. Ditengah melaksanakan rukun kelima itu, ia menyaksikan pemandangan yang cukup mengenaskan.

   Ia melihat dengan mata kepala sendiri beberapa orang jamaah yang sedang dalam kepayahan karena tengah menahan rasa haus dahaga yang teramat sangat. Istri sang Khalifah ini rupanya tersentuh hatinya. Ia lalu menyumbangkan hartanya dalam jumlah yang cukup banyak buat membantu orang-orang yang tengah dilanda kehausan itu.

  Beberapa hari selanjutnya, istri sang Khalifah itu meninggal dunia. Puteranya atau salah seorang kerabatnya bermimpi bertemu dengannya. Dalam rupa yang sangat elok dan juga dalam keadaan yang sangat baik. Segala puji bagi Allah. Karunia adalah berasal dariNya, sedangkan datangnya bencana adalah akibat perbuatan kita sendiri.

Dalam mimpi itu, sang anak bertanya; “Wahai Ibu, apa yang Allah berikan kepadamu?”

Wanita itu menjawab; “Tidak ada satu pun keluarga kita yang mampu menolongku. Aaku pergi menghadap Tuhanku laksana debu yang bertaburan.

Sang anak berkata; “Maha Suci Allah. Bukankah Ibu pernah menolong beberapa orang jamaah Haji yang sedang merasa kehausan dan kelaparan?”

Wanita itu menjawab; “Benar, akan tetapi hal itu kulakukan dengan tidak ikhlas.

Si anak bertanya lagi; “Lalu apa yang mendatangkan manfaat bagimu?”

  Wanita itu menjawab; “Yang bermanfaat bagiku adalah Sholat dua rakaat yang biasa kulakukan pada tengah malam. Menjelang larut malam aku biasa bangun dari tidurku. Setelah berwudhu, aku keluar rumah untuk memandangi bintang gemintang yang bertaburan di atas langit nan cerah seraya berucap: “Tidak ada Tuhan selain Allah”.

  Itulah kebiasaan yang aku lakukan dalam hidupku. Dan ternyata itulah yang menyebabkan Tuhan berkenan mengampuni dosa-dosaku."

  Subhanallah. Beruntunglah orang yang Ikhlash serta menjauhi sifat riya (ingin dilihat dan dipuji orang lain) dalam melakukan kebaikan.

Disarikan dari Kitab Dawa’ al Qulub Al Maridhah, Syaikh Aidh bin Abdullah Al Qarni.

Sumber: Majalah Ghoib Edisi No.1 Th 1/1423 H/2002 M
November 06, 2019
thumbnail

Renungan Kematian

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-04


RENUNGAN KEMATIAN

  Saya pernah menunggui seorang pasien yang sakaratul maut. Sudah 1 pekan ia masuk ICU tidak sadarkan diri, namun tak kunjung ada perubahan bahkan pasien cenderung semakin gelisah, kadang dalam keadaan tidak sadar ia berteriak-teriak tidak karu-karuan. Terkadang ia meneteskan air mata, dan tiba-tiba ia seperti kesakitan yang luar biasa.

  Sore itu saat dinas di RS, saya dipanggil untuk menunggui pasien tersebut, tanda-tanda vital kehidupannya sudah menurun. Keluarga sudah pasrah, dan berharap diberikan jalan yang terbaik untuk ayahanda mereka. Beberapa kali ayahanda mereka masih berteriak-teriak.

  "Bapak dulu pernah bertugas di Aceh dok. Ada satu peristiwa yang tidak bisa bapak lupakan. Saat itu selepas waktu Ashr, ada gerakan di balik semak-semak dekat perbatasan. Bapak langsung berteriak, "Siapa di situ! Berhenti atau saya tembak!" Rupanya gerakan di semak-semak itu tidak berhenti, lalu bapak memberi peringatan kedua, dan tanpa pikir panjang bapak segera menembak semak-semak itu."

  Terdengar lengkingan suara yang lemah, dan ketika bapak periksa ternyata sosok yang ia tembak adalah sosok anak kecil yang sedang bermain kelereng. Dadanya berlubang dan ia sudah tewas saat itu. 

  Semenjak saat itu bapak selalu dibayang-bayangi wajah anak itu, juga bayangan dosa yang telah ia lakukan. Kami sekeluarga sudah menduga bahwa proses sakaratul maut bapak pasti akan panjang, karena kami yakin amalan manusia itu pasti akan diperlihatkan sesaat menjelang kematiannya..."

***

  Kasus-kasus serupa kejadian di atas sudah beberapa kali terjadi di rumah sakit. Ada juga yang meninggal dalam keadaan muka gosong menghitam, padahal ia rajin shalat, puasa dan mohon maaf berpredikat "Kyai". Proses kematiannya pun sangat menyakitkan. 

  Setelah ditelusuri, almarhum pernah mengambil alih tanah wakaf milik yayasan menjadi tanah pribadi. Namun tidak jarang saya menjumpai kamar pasien yang telah meninggal mendadak berbau wangi seperti wangi bunga. Pasien tersebut rupanya seorang Takmir masjid yang senantiasa melayani umat untuk berjamaah.

Dan masih banyak lagi yang lain berkaitan dengan proses kematian.

  Yang penting kita pahami di sini adalah, bahwasanya perbuatan kita, sekecil apa pun itu, apalagi jika berkaitan dengan haqqul Adami, pasti akan dimintai pertanggungjawaban dengan adil oleh Allah Azza wa Jalla. Kita tidak mungkin mengelak dari semua perilaku kita, terkadang kita bakal diperlihatkan posisi kita kelak, apakah di neraka atau di surga bahkan sebelum ajal datang menjemput.

  Bayangkan jika membunuh satu jiwa saja kata Rasul ibarat membunuh seluruh manusia, pelakunya pun sudah sedemikian rupa siksanya menjelang sakaratul maut. Apalagi jika ia membunuh dan berbuat dholim sampai puluhan bahkan ratusan korbannya.

  Kadang ada yang berdalih, "Gimana lagi ini perintah atasan untuk tembak di tempat..." Ketahuilah, bahwa setiap diri kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita kerjakan semasa di dunia. Ingat apa kata Iblis ketika di akhirat banyak pengikutnya yang meminta iblis bertanggung jawab karena telah menjerumuskan mereka? 

  Iblis berkata, "Aku berlepas diri dari pertanggungjawaban atas perbuatanmu. -bahasa kekiniannya, "Ya salahmu sendiri, mengapa mengikuti perintah ku-"

Nauzubillahi min dzalik tsuma nauzubillah...

  "Ya Allah ya Rabbi, hindarkan lah kami dari kerusakan yang kan menjerumuskan kami ke liang neraka-Mu, dan lindungilah kami dari orang-orang yang dhalim lagi aniaya. Ya Allah, selamatkanlah duniawi kami juga akhirat kami. Hanya kepada-Mu lah ya Allah, kami menyerahkan diri kami, maka wafatkanlah kami bersama orang-orang yang shaleh. Ya Allah, kabulkanlah doa kami."

Wallahu a'lam bish showab

Komunitas Bisa Menulis

Monte Selvanus
November 04, 2019
thumbnail

Asuransi Terbaik

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-01


  Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua Khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. 

  Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

   Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang Fi Sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan penunggang kuda.

Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.

  Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

  Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.

Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.

  Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.

Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,

Ayat yang pertama,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

  “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang Shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

  Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang Shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.

Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,

 “Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,

  “Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”

Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,

  “Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. 

  Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)

  Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.

 Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”

Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”

Mereka pun mendudukkannya.

  Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. 

  Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah:

 ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). 

  Anaknya Umar satu dari dua jenis: Shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

  Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

  Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.

  Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.

Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:

  Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

  Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.

Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah.

Ustadz Budi Ashari Lc


RRIAds - Madu Ruqyah Pahit (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


November 01, 2019
thumbnail

Gangguan Jin Terhalang Jilbab Syar'i

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-30


Kisah Sebelumnya...

  Begitu mendapat ruqyah yang keempat kali dari Ustadz Fadhlan rasa takut saya semakin hilang.tetapi tiba-tiba di depan rumah saya ada ular besar berwarna hijau. Saat itu pukul 16.00. Ular itu bisa dilihat orang yang sedang lewat dengan warna hijau, sedang anak saya yang sudah masuk TK dan sudah mengenal warna, bilang warnanya hitam.

  Kemudian ular itu naik pohon kol Banda tempat ditanamnya rajah dulu. Saya mengamati terus gerakan ular itu, namun tiba-tiba ia menghilang entah ke mana. Untuk lebih meyakinkan saya, saya menunggui pohon kol Banda itu hingga pohon itu ditebang, dipotong-potong sampai habis, namun ular itu tak kami dapati.

  Benjolan dileher saya pun sudah mulai mengecil dan saya sudah bisa bicara normal. Bisa lancar wirid Al Matsurat setiap pagi dan sore. Saya bisa tidur nyenyak dan tidak mimpi buruk lagi.

  Sholat bisa khusu’, tilawah Al Qur’an pun lancar kembali. Sebenarnya saya didorong Mas Rohib untuk dapat memenuhi satu Juz sebagai muwashafat (target pencapaian amal). Tapi Tajwid saya masih perlu dibenahi. Paling tidak sekarang bisa lancar dulu.

  Namun, pada suatu malam Ahad, saya bermimpi seperti menggunakan jubah putih yang besar, kerudung besar. Kemudian diserang seekor ular yang besar. Tapi, ia hanya bisa lewat di depan saya.

  Tapi ada lagi yang menyerang wajah saya. Sehingga begitu pagi keesok harinya saya nggak bisa apa-apa. Kemudian setelah diruqyah oleh mas Rohib dengan ditotok-totok kepala saya dan mendengarkan kaset Ustadz Fadhlan, saya lalu berkeringat dan terasa ringan kembali.

  Walaupun saya tahu orang yang membuat saya sengsara, namun sikap saya dengan orang yang menanam rajah baik-baik saja. Saya berusaha menegur duluan jika bertemu di jalan. Apalagi selama saya diruqyah, penanam rajah itu sakit-sakitan terus. Sampai muntah darah dan suaranya terdengar hingga di rumah saya bagian belakang.

  Kebetulan, rumahnya memang di belakang rumah saya. Akhirnya dia minta obat ke sini. Dan karena nggak ada dendam dan benci, dengan senang hati kami melayani permintaannya untuk menjaga hubungan tetangga.

 Lain halnya dengan Bapak Suyitno, pemilik tanah yang mau dibangun gereja itu, mengalami sakit berat dan aneh selama masa-masa saya diruqyah. Ia mengalami kelumpuhan, stroke dan lama dirawat di rumah sakit.

  Namun selama itu pula para dokter belum menemukan jenis penyakit yang dideritanya. Bahkan anak perempuannya, Bu Nanik (50 th) juga sakit berat hingga meninggal.

  Lalu pihak keluarga Bapak Suyitno menyarankan untuk minta maaf pada kaum Muslimin sekitar dan pada keluarga saya. Alhamdulillah mereka minta maaf dan saya bersama mas Rohib malah pergi ke sana untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhannya.

  Begitu ia minta maaf dan saya bersama mas Rohib memaafkan, saat itu juga ia langsung sembuh dan dapat berbicara dan berjalan sebagaimana semula. Kami pun langsung mohon pamit untuk mengajar. Karena Mas Rohib kini telah mengajar di SMU 1 Suruh Salatiga sejak Mei 2002. Alhamdulillah jadi lebih dekat.

Atas peristiwa yang menimpa saya itu, ada suatu yang sangat berkesan pada diri saya dari pengakuan Jin.

“Kami tidak bisa mencelakai kamu, karena kamu selalu menutup auratmu dengan memakai Jilbab besar.”

Bagi saya, semua ini adalah perjalanan rohani yang sangat mahal. [Selesai]

*Seperti diceritakan Ibu Diah Rianasari, SPd kepada Wartawan Ghoib di Suruh Salatiga, Jawa Tengah.

Sumber : Majalah Ghoib Edisi No 1. Th 1/1423 H/2002 M
October 30, 2019
thumbnail

Serial 4 Alam Jin: Rupa Setan

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-29


Bahasan kali ini akan ditindaklanjuti dengan melihat rupa setan. Di antaranya setan itu adalah makhluk yang memiliki tanduk dan rupa yang buruk.

Rupa Setan

  Setan memiliki rupa yang amat jelek. Bahkan dalam khayalan setiap orang pun sudah tertanam. Kepala setan pun digambarkan dalam Al Qur’an seperti mayang dari pohon yang keluar dari dasar neraka. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,

إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ (64) طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ (65)

Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.(QS. Ash Shaffaat: 64-65).

 Orang Nashrani di masa silam menggambarkan setan sebagai laki-laki yang hitam kelam yang memiliki jenggot, alis mata yang runcing ke atas, mulut yang mengeluarkan nyala api, bertanduk, memiliki kuku yang panjang dan berekor.

Setan Memiliki Dua Tanduk

Dalil yang menunjukkan bahwa setan memiliki dua tanduk:

Hadits Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَحَرَّوْا بِصَلاَتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلاَ غُرُوبَهَا فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بِقَرْنَىْ شَيْطَانٍ

Janganlah kalian melaksanakan shalat saat matahari terbit dan saat tenggelam karena waktu tersebut adalah waktu munculnya dua tanduk setan(HR. Muslim no. 828).

Dari Ibnu ‘Umar pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا طَلَعَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوا الصَّلاَةَ حَتَّى تَبْرُزَ ، وَإِذَا غَابَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوا الصَّلاَةَ حَتَّى تَغِيبَ  وَلاَ تَحَيَّنُوا بِصَلاَتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلاَ غُرُوبَهَا ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ

Jika matahari mulai terbit, tinggalkanlah shalat sampai terang (matahari terbit). Jika matahari mulai tenggelam, tinggalkanlah shalat, sampai benar-benar hilang (tenggelam). Janganlah kalian bersengaja mengerjakan shalat ketika matahari terbit dan tenggelam karena matahari terbit pada dua tanduk setan.(HR. Bukhari no. 3273)

 Makna hadits di atas adalah bahwa sekelompok orang musyrik dahulu menyembah matahari. Mereka sujud pada matahari ketika akan terbit dan tenggelam. Ketika itu setan berdiri di arah matahari itu berada supaya orang-orang menyembahnya. Hal ini ditegaskan dalam hadits berikut,

صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ

Laksanakanlah shalat shubuh kemudian berhentilah mengerjakan shalat hingga terbit matahari, hingga pula matahari meninggi karena matahari terbit ketika munculnya dua tanduk setan dan saat itu orang-orang kafir sujud pada matahari. Kemudian setelah itu shalatlah karena shalat ketika itu disaksikan.

Dan hadits itu disebutkan pula,

حَتَّى تُصَلِّىَ الْعَصْرَ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

Hingga engkau shalat ‘Ashar kemudian setelah itu berhentilah shalat hingga matahari tenggelam karena saat itu matahari tenggelam antara dua tanduk setan dan saat itu orang-orang kafir sujud pada matahari. (HR. Muslim no. 832).

  Hadits larangan shalat di atas dipahami untuk shalat yang tidak memiliki sebab seperti shalat sunnah mutlak, yaitu asal shalat sunnah saja dua raka’at. Jika shalat yang memiliki sebab seperti tahiyyatul masjid, shalat gerhana, shalat setelah wudhu, atau qodho’ shalat yang luput, maka dibolehkan meskipun pada waktu terlarang untuk shalat. 

Karena dalam hadits larangan di atas disebutkan,

وَلاَ تَحَيَّنُوا بِصَلاَتِكُمْ

Janganlah mengerjakan shalat (yang tidak memiliki sebab) secara sengaja …

Hanya Allah yang memberi taufik.

Muhammad Abduh Tuasikal

Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.

Sumber : Muslim.or.id

October 29, 2019